Showing posts with label USA. Show all posts
Showing posts with label USA. Show all posts

November 24, 2015

Terapi Saat Flu Beraksi

Source: 123rf.com

Beberapa hari lalu, di salah satu pertemuan online yang saya ikuti, seorang rekan bercerita kalau saat ini ia dan keluarganya tengah terkena flu. Orang-orang di lingkungan sekitar dirinya pun mengalami hal yang sama. Ia pikir, perubahan musim dan cuacalah penyebabnya. Ia pun berdiskusi dengan kami apa pereda flu alami yang bisa ia dan keluarganya coba. Ada rekan yang menyarankan untuk mengkonsumsi ramuan tertentu, obat herbal, bahkan ada pula yang menyarankan vaksinasi flu (flu shot).

Meski flu bukan penyakit, berbahaya, namun sekali terkena tentu mengganggu aktivitas kita. Tak nyaman bukan bila kita mengerjakan tugas-tugas penting, tapi badan meriang? Konsentrasi dan produktivitas pun bisa terganggu karenanya. Nah, berikut beberapa kiat alami yang bisa anda coba untuk menghadapi serangan flu:

Pertama, minum campuran jeruk nipis peras (jeniper) dengan air hangat. Bila tak ada jeruk nipis, kita bisa menggunakan jeruk lemon. Tips ini sebenarnya rutin dikonsumsi oleh rekan-rekan yang aktif ber-FC (food combining). Setiap pagi, sesaat setelah bangun tidur, para praktisi FC rutin mengkonsumsi ramuan  tersebut sebelum mengkonsumsi apapun. Meski tujuan dari konsumsi air jeniper sebenarnya untuk mengaktifkan enzim pencernaan, namun kehangatan dan kandungan vitamin C-nya yang tinggi sangat membantu mereka yang sedang memulihkan kondisi tubuhnya akibat flu.

Kedua, konsumsi lemon shot  yang merupakan campuran lemon peras dan madu. Lemon shot dipercaya membantu menjaga kondisi tubuh. Setelah meminumnya, sebaiknya segera meminum segelas air putih guna membilas air lemon yang cukup asam bagi gigi kita.

Ketiga, minum vitamin C dosis tinggi, sekitar 1000 miligram. Meski normalnya vitamin C yang kita butuhkan hanya sekitar 90 miligram/hari, nyatanya minum vitamin dosis tinggi cukup membantu saat kondisi tubuh turun akibat serangan flu. Perlu diingat, konsumsi vitamin C dosis tinggi ini jangan sampai dilakukan terus-menerus, karena kita tidak ingin ginjal kita bekerja berat setiap harnya akibat konsumsi zat tertentu secara berlebihan.

Intinya, flu yang bersumber dari virus tersebut penyembuhannya sangat bergantung pada imunitas tubuh kita. Bila flu menyerang, usahakan memperbanyak istirahat dan minum air hangat, serta praktikkan beberapa kiat alami di atas. Tentu tak lupa berdoa, agar kondisi anda bisa segera pulih seperti sediakala.
• • •

November 19, 2015

Writing Portfolio

Saya pikir, bagus juga menuliskan karya-karya yang sudah kita hasilkan. Meski terkesan narsis, tapi ternyata bisa menjadi catatan penting dan sekaligus pemicu semangat bila produktivitas sedang menurun. Saya harus terus berkarya agar daftar portofolio di bawah ini bisa bertambah panjang.

Untuk buku, saya baru sebatas menyumbangkan karya di buku antologi. Pengennya sih bisa punya buku sendiri :) Insyaa Allah, Aamiin.

Cerpen/Artikel:
  • Pagi yang Menyenangkan (Majalah Mombi, 2006)
  • Bunda dan Internet (We R Mommies' Website, 2006)
  • Cobaan dalam Usaha (BundaInBiz' Newsletter, 2006)
  • Sebuah Karunia Bernama Deafness (Majalah Annida, 2007)
  • Berilmu dan Bermanfaat, Mengapa Tidak? (Juara 2 Lomba Menulis Imsis, 2015)

Buku:
(LPPH, 2007)

(LPPH, 2008)

(NulisBukuDotCom, 2011)

(Qibla - BIP, 2014)



• • •

November 17, 2015

Berilmu dan Bermanfaat, Mengapa Tidak?

Source: Dunia Jilbab

Anda telah berkeluarga, tapi ingin tetap bermanfaat bagi umat? Atau, anda ingin menjadi wanita produktif, meski kondisi tak memungkinkan anda untuk leluasa keluar rumah? Bagaimana caranya agar ilmu yang kita dapatkan tak sia-sia?

Seperti kita tahu, mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Allah SWT juga memerintahkan umat-Nya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Dalam salah satu hadist dikatakan, “siapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga” (HR. Muslim). Bahkan  di  Al  Qu'ran  disebutkan,  “niscaya  Allah  akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah: 11). Itu artinya ilmu pengetahuan menduduki posisi penting dalam Islam

Sebelum mengamalkan sesuatu, ada baiknya kita pun mendasarinya dengan ilmu. Tak  heran bila ada ungkapan, “siapa yang menginginkan dunia, hendaknya dengan ilmu. Siapa menginginkan akhirat, hendaklah dengan ilmu. Dan  siapa  yang  menginginkan  keduanya,  maka hendaklah dengan ilmu.” Tanpa ilmu, bisa jadi kita berbuat sesuatu yang tak ada tuntunannya dalam agama. Bukannya beroleh  pahala,  malah  menambah  dosa.

Dengan berilmu, pondasi kehidupan kita akan lebih kokoh dan tak mudah  goyah  oleh  berbagai  pengaruh negatif. Bila kita tilik sejarah, wanita berilmu telah sejak lama mendapatkan tempat untuk  berkiprah. Kita tentu ingat bagaimana perjuangan Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah yang memiliki kekayaan berlimpah, status sosial tinggi, dan seorang pengusaha sukses. Dengan modal harta dan ilmunya, beliau berperan aktif dalam dakwah awal Rasulullah. Begitu pula dengan 'Aisyah binti Abu Bakar, istri  Rasulullah  yang  cantik,  cerdas,  hafal  Qur'an, hafal ribuan hadist, dan aktif membagikan ilmu yang dimilikinya. Lalu ada Ummu Salamah, istri Rasulullah yang  memiliki  analisa  tajam,  sehingga  mampu  memberikan  masukan penting dalam penyusunan strategi perang. Begitu pun Fatimah binti Muhammad SAW, putri Rasulullah dan Khadijah, yang terlibat dalam berbagai peperangan sebagai tabib. Sungguh, mereka adalah contoh wanita-wanita tangguh yang konsisten menyumbangkan ilmu dan tenaganya untuk kepentingan umat, tanpa melepaskan peran mereka sebagai istri dan ibu di rumah mereka masing-masing.

Saat ini kita memang berada di zaman yang berbeda. Namun contoh-contoh di atas bisa menjadi penyemangat tersendiri bagi muslimah masa kini. Semangat untuk terus menuntut ilmu dan berperan aktif di masyarakat, tanpa menanggalkan posisi sebagai istri dan manajer rumah tangga (ummu wa robbatul bait). 

Bagi para ibu yang sibuk mengurus anak-anaknya yang masih belia, sehingga tak leluasa beraktivitas di luar rumah, mereka pun tak perlu berkecil hati dan merasa terkungkung. Bila mereka paham bahwa apa dijalaninya itu berpahala besar, tentu mereka dapat memandang positif aktivitasnya tersebut. Sayangnya banyak wanita  yang  belum menyadari bahwa apa yang dijalaninya tak hanya bermanfaat bagi keluarganya semata, namun lebih dari itu mereka sebenarnya tengah mempersiapkan generasi pembangun bangsa. Tanpa peran perempuan-perempuan beriman dan terpelajar di rumah, mustahil bangsa kita kelak menjadi bangsa  yang  kuat.

Lalu, bagaimana caranya agar kita mampu berprestasi dan bermanfaat, padahal sibuk dengan berbagai urusan rumah tangga? Berikut beberapa langkah yang bisa para muslimah lakukan guna mengoptimalkan potensinya:
1. Analisa minat dan bakat anda
Dengan mengetahui bakat dan minatnya, para muslimah dapat lebih memaksimalkan potensinya. Sehingga mereka bisa percaya diri dengan kemampuannya, menikmati perannya, serta mampu berkontribusi aktif bagi kemajuan masyarakat.
2. Identifikasi waktu yang tersedia
Berusahalah untuk produktif, berapa pun waktu yang kita punya. Kita yang harus mampu mengatur waktu, bukan kita yang diperbudak oleh waktu. Waktu-waktu kosong, misalnya disela waktu bermain dan istirahat anak, bisa kita manfaatkan untuk menambah ilmu, ketrampilan, amalan, serta menyelesaikan urusan yang menjadi kewajiban kita. Jangan sampai waktu luang tersebut hanya kita lewatkan dengan tidur atau mengerjakan hal yang sia-sia.
3. Memanfaatkan fasilitas belajar online
Saat ini kita bisa belajar apa pun dan kapan pun, tanpa  harus  terbatas  jarak,  waktu,  atau biaya. Kita dapat belajar ilmu agama maupun ilmu-ilmu lain yang menjadi minat  kita.  Daripada hanya sekedar pamer status dan foto, serta bergosip di Facebook atau media sosial lainnya, tentu akan lebih bermanfaat bila kita gunakan waktu untuk bergabung  dengan  berbagai kuliah dan kegiatan online yang produktif. Tak harus berbayar, karena sumber belajar gratis pun melimpah.
4. Berusaha Proaktif
Dengan bersikap proaktif, muslimah dapat berkontribusi nyata dan menjadi agen perubahan di masyarakat. Kita bisa mewujudkannya dengan membantu proyek-proyek sosial, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Salah satu contoh sederhana, ada seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Amerika Serikat dan bekerja paruh waktu sebagai loper koran. Namun siapa nyana, di Indonesia ia memiliki sebuah TK gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu.
Contoh lainnya masih dari Amerika Serikat, yakni para  muslimah  yang  bersedia  meluangkan sedikit waktunya untuk menggerakkan organisasi IMSA Sister. Meski mereka memiliki beragam kesibukan dan tinggal di berbagai wilayah dengan beragam zona waktu, namun tak menyurutkan langkah mereka untuk berkontribusi bagi umat. Itu membuktikan bahwasanya  kita bisa berbagi dengan sesama, apa pun kondisi kita saat ini.
5. Tetap bersandar pada Al Qur'an dan sunnah
Sesibuk dan sesempit apa pun waktu kita, ada baiknya tetap merutinkan membaca dan mengkaji Al Qur'an, tafsir, maupun hadist.  Aktivitas  tersebut  akan  menjadi  penyemangat kita agar  senantiasa meningkatkan ilmu dan iman Islam kita.

Pada intinya, wanita berhak berilmu dan meraih kesempatan seperti halnya kaum adam. Dengan berilmu, seorang wanita akan lebih berdaya dan mampu berperan positif membangun masyarakat. Tak masalah apakah perjuangan itu dilakukan di dalam ataupun di luar rumah.  Dalam salah satu hadist disebutkan, “manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani). Oleh karena itu, para wanita hendaknya bersemangat untuk terus produktif. Sehingga mereka bermanfaat tak hanya bagi keluarga, namun juga bagi komunitas dan orang-orang di sekitarnya.

Ladang amal dan pahala terhampar di depan mata. Apalagi yang kita tunggu? Yuk, sama- sama berusaha menjadi pribadi yang berilmu dan bermanfaat!

Catatan:
Alhamdulillah artikel di atas mendapat penghargaan Juara 2 dalam Lomba Menulis IMSIS 2015 yang diadakan oleh organisasi IMSA - Sister (USA).
• • •

November 10, 2015

Artikel Ilmiah dari Researchgate

Source: Pioneers

Artikel ilmiah terbaru menjadi pijakan penting saat melakukan studi pustaka bagi penelitian-penelitian kita. Dengan membaca artikel-artikel baru, maka perkembangan riset di bidang kita pun bisa lebih mudah dipahami. Untuk itu, sejak beberapa tahun lalu saya bergabung di dua situs yang didalamnya bergabung para akademia dan peneliti dari berbagai bidang. Kedua situs itu adalah academia dan researchgate.

Karena saya berkecimpung di dunia pendidikan, maka dalam profil keanggotaan saya sertakan bidang penelitian yang saya minati, yakni early childhood education (pendidikan anak usia dini) dan early literacy (literasi dini). Dari bidang riset yang kita cantumkan itulah, maka secara berkala kita akan mendapatkan informasi beragam artikel yang berhubungan dengan minat dan kemampuan kita. Ada artikel yang dibagi secara full, namun ada juga yang hanya mencantumkan abstraknya saja.

Untuk artikel yang tidak bisa kita akses secara penuh, sementara artikelnya sangat menarik untuk disimak, maka kita bisa meminta penulisnya untuk berbagi melalui pilihan bantu yang terdapat di situs tersebut. Kadang berbalas, kadang juga tidak. Namanya juga usaha, tak selalu membuahkan hasil positif bukan?

Seperti yang saya alami pagi ini. Ketika cek email, ada pemberitahuan dari researchgate kalau saya mendapat kiriman artikel dari seorang peneliti di eropa. Saya baru teringat, minggu lalu saya baca abstrak penelitiannya setelah mendapatkan informasi melalui email. Karena penelitiannya berkenaan dengan minat saya, maka saya pun meminta penulisnya untuk membagi artikelnya. Alhamdulillah, ternyata ia merespon positif permohonan saya.

Nah, ternyata mencari jurnal ilmiah tak harus dari database di perpustakaan saja. Jalan lainnya bisa lewat googlescholar, maupun dengan bergabung di situs academia maupun researchgate. Tak selalu berhasil, namun bisa menjadi alternatif saat ingin mengakses artikel ilmiah yang kita butuhkan. Terutama artikel-artikel yang belum lama terbit dan belum bisa kita dapatkan secarata gratis di database yang kita akses.  
• • •

October 09, 2015

Rewriting dan Lomba Menulis


Source: Pinterest

Pada akhir Agustus 2015 yang lalu, saya bergabung dengan Training Penulisan Artikel yang diadakan oleh grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) yang dimotori oleh teh Indari Mastuti. Dalam training tersebut, peserta diminta menuliskan dua artikel yang harus diposting di Kompasiana. Sebelum diposting, kedua artikel tersebut dikoreksi terlebih dahulu oleh teh Inda. 

Sebenarnya artikel-artikel yang saya serahkan tersebut merupakan artikel lama yang saya tulis kembali (rewriting). Tentu sudah saya koreksi sedikit sebelum saya serahkan ke teh Inda. 

Berikut links dimana anda bisa membaca kedua artikel yang saya tulis kembali tersebut.
Tulisan 1: Before and After
Tulisan 2: Before and After

Setelahnya, teh Inda menyampaikan kritik dan saran yang membangun. Menurut beliau, saya harus berlatih terus agar nantinya dapat menuliskan judul yang tepat dan membuat lead atau awal tulisan yang bisa lebih menarik perhatian pembaca. Alhamdulillah, senangnya bisa mendapat masukan dan kritik dari orang yang sudah sangat mumpuni dalam dunia tulis-menulis. 


Training artikel itu juga memotivasi saya untuk mengikuti lomba menulis artikel yang diadakan oleh organisasi IMSA Sister. Alhamdulillah, saya dapat Juara ke-2. Juara 1 dan 3-nya adalah ustadz-ustadz yang insyaa Allah sudah memiliki kemampuan menulis lebih dari saya dan biasa berdakwah pada para jamaahnya. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat agar saya lebih konsisten menuliskan opini, sehingga artikel yang dihasilkan pun akan lebih punya greget.
• • •

September 29, 2015

Teknik Pomodoro

Pomodoro atau Podomoro? :D

Source: Valorebooks

Betul kok, memang teknik Pomodoro. Teknik yang saya kenal sejak setahun yang lalu tersebut banyak manfaatya, asalkan kita konsisten. Sayangnya saya tidak terlalu sering menggunakan teknik tersebut. Maunya kerja tanpa harus diatur waktu. Kalau mau ngerjain sesuatu, ya kerjain aja. Iya kalau sedang rajin, kalau tidak? Yang ada pas udah petang baru nyadar, tadi seharian ngapain aja  ya? Kok banyak pekerjaan yang belum terselesaikan :D

Karena sekarang ada banyak hal yang sedang ingin saya pelajari, sementara saya pun harus membagi waktu saya dengan urusan rumah tangga lainnya, teringatlah saya pada teknik Pomodoro tersebut. Kalau gak pakai Pomodoro, bisa jadi target-target saya ke depan tidak bisa tercapai nih, begitu pikir saya. Lalu saya pun ketemu blog mbak Dedek, seorang ibu serba bisa dulu saya kenal ketika masih tinggal di Depok. Saat ini beliau bersama suami dan 2 orang buah hatinya tinggal di New Zealand. Beliau juga sedang berusaha menerapkan Pomodoro untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas, baik itu urusan rumah maupun kantor. Kisah beliau tersebut ada di link ini.


Nah, bagaimana sih cara mengaplikasikan Pomodoro?
Intinya sih, kita buat target apa saja yang ingin kita kerjakan. Lalu kita perkirakan berapa lama kita bisa menyelesaikan satu target. 
Setelah itu, kita mulai dengan Pomodoro pertama, yakni 25 menit. Timer-nya boleh pakai kitchen timer, jam dinding, timer di handphone, ataupun online timer. Selama 25 menit itu kita harus fokus kerja. Kalau ada email ataupun pesan lain yang masuk, abaikan dahulu. Nanti setelah 25 menit kerja kita bisa dapat jatah break 5 menit. Dalam 5 menit itu kita bebas mengerjakan apa saja, misalnya ngopi, cek email, buka facebook, dll.
Setelah istirahat 5 menit, mulailah Pomodoro kita yang ke-2. Kerja lagi 25 menit, lalu break 5 menit. Begitu seterusnya sampai Pomodoro ke-4. Setelah Pomodoro ke-4, baru kita boleh dapat break lebih panjang, yakni 15 menit. Hurray :D

Hasilnya lumayan banget. Ini saya udah lama sekali tak posting di blog. Nah, seperti saran mbak Dedek, saya pakai satu Pomodoro untuk menuliskan postingan ini dan berhasil :) Alhamdulillah....

Nah, mau coba juga teknik Pomodoro agar anda bisa lebih produktif dan efisien?

• • •

August 03, 2014

"Rahasia" Rendang

Alhamdulillah, sehari sebelum Idul Fitri kemarin, saya belajar masak rendang pada seorang teman di Columbus, Ohio. Namanya mbak Neni. Beliau juga yang sebelumnya mengajarkan cara membuat. pempek dan tekwan. 

Sebelum berguru pada mbak Neni, sebenarnya saya sudah beberapa kali membuat rendang. Dari yang hanya bermodal bumbu Indo***d sampai bumbu buatan sendiri (nyontek dari internet sih :)) Sayangnya, rendang buatan saya hasilnya basah seperti kalio. Suka iri liat rendang buatan teman-teman disini yang bisa kering tanpa kuah. Penasaran banget gimana cara bikinnya.

Alhamdulillah pas saya todong buat ngajarin, mbak Neni gak keberatan. Akhirnya janjian, sehari sebelum Idul Fitri saya sudah harus ada di Columbus supaya ada waktu belajar membuat rendang. Ok, siapa takut :D 

Saat itu, daging dan beberapa bumbu sengaja saya yang beli. Mau belajar ya harus berani keluar modal :) Bumbu-bumbu yang tidak saya bawa, barulah ditambahkan oleh mbak Neni.

Inti dari belajar masak rendang kemarin adalah di tahap akhir pembuatan. Bumbu dan tahap awal pembuatan saya lihat sama dengan yang sering saya temukan di banyak blog ataupun youtube. Hanya saja, ketika kuah rendang sudah mengental atau bisa kita sebut sebagai kalio, kita masukkan minyak goreng agak banyak kedalamnya. Tujuannya supaya bumbu dan kuahnya cepat mengering. Tips ini didapatkan mbak Neni dari rekannya yang orang tuanya kebetulan punya warung masakan minang. Cara ini sekaligus menghemat penggunaan kelapa. Karena hanya dengan menggunakan santan yang tidak terlalu banyak, tetap ada minyak yang membantu menyusutkan kuah. Waktu pun bisa dihemat banyak dengan cara tersebut.


Sayang sekali hasil latihan membuat rendang dengan mbak Neni tidak sempat saya abadikan. Nah, sore ini saya buat sendiri di rumah. Alhamdulillah sempat saya potret untuk kenang-kenangan :)


• • •

January 07, 2014

Berkah Cuaca Buruk

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan cerita disini saja. Disini saya bisa menuliskan banyak hal dengan bebas. Yang mau berkunjung kemari juga silahkan, kapan saja boleh. Mau beberapa kali dalam sehari juga hayuk. Malah saya senang dan berterima kasih :)

Alhamdulillah, saya dapat long weekend (hurray!). Senin dan Selasa ini saya libur kerja karena cuaca buruk. Senin kemarin suhu mencapai -21°C, namun ditambahi angin real feel temperature mencapai -35°C. Hari Selasa sudah agak mendingan menjadi sekitar -17°C. Menurut berita, ini suhu terendah selama 1 dekade terakhir. Pantaslah bila kampus dan sekolah tutup. Gereja-gereja juga membatalkan jadwal misa di malam hari. Tak ada yang mau mengambil resiko berada di luar rumah di kondisi seekstrim itu. Tak terbayang, bagaimana dengan teman-teman yang kini tinggal di Norwegia. Suhu sedingin itu barangkali sudah jadi santapan sehari-hari.

Karena cuaca tak bersahabat, sepanjang weekend sampai Senin, saya dan suami hanya di rumah. Alhamdulillah sudah tersedia cukup bahan makanan, jadi tak perlu belanja lagi. Selasa siang barulah suami ke kampus sebentar dan mampir ke rumah Prof. Pulangnya istri Prof nitipin syal dan ternyata itu Made in Germany.  Kebetulan Prof dan istri sama-sama orang Jerman. Alhamdulillah, tanda-tanda balik ke Jerman nih kayaknya *ngarep :D* Katanya beliau alergi sama bahan wool, jadi dikasih deh syal itu ke saya. Sering-sering aja, Bu. kalau buatan Jerman mah saya gak bakal nolak :))

Hari ini teman lama juga menyapa di FB. Dia sekarang menjadi guru TKIT di Depok. Jadilah kami ngobrol lama sambil saling berbagi info tentang pengalaman kami selama bekerja dengan anak-anak dan keinginan kami di masa mendatang. Alhamdulillah, senang bisa menikmati hari ini dengan saling menyemangati dan berharap silaturahim kami akan terus berlanjut.
• • •

December 15, 2013

Sambal Terasi Kering

Beberapa hari lagi, in shaa Allah saya dan suami akan mengikuti Muktamar IMSA di Louisville, Kentucky selama 5 hari. Mbak Gina (koordinator konsumsi) sejak lama sudah wanti-wanti agar saya tak lupa membawa sekotak kecil sambal terasi. Saya yakin beliau meminta hal yang sama ke beberapa orang yang jadi volunteer masak. Tujuannya supaya mempermudah tugas bagian konsumsi, karena harus menyiapkan makan bagi 1100 orang yang in shaa Allah akan hadir di acara tersebut.

Saat mbak Gina menghubungi lewat message FB itu, saya katakan sambal saya kurang mantap rasanya. Namun demi Muktamar IMSA, in shaa Allah saya mau belajar. Kata mbak Gina, soal rasa tak masalah, yang penting pedas :D 

Saya sempat tanya ke dua rekan yang menurut saya sambalnya enak. Sayang jawaban keduanya belum memuaskan. Masih saja sambal buatan saya terasa kurang mantap. Berair, itu yang saya lihat dari sambal saya. Lebih cocok dipakai sebagai bumbu merah untuk masak, ketimbang sambal terasi yang bisa digunakan untuk teman makan.

Sampai akhirnya, tetaplah mbah Google yang jadi andalan. Saya ketemu blog mbak Irni yang suaminya dulu sempat satu almamater dengan suami saya. Disitu tersedia resep sambal terasi yang teksturnya sesuai dengan yang keinginan saya. Ini saya copas aja biar gampang kalau kapan-kapan saya butuh lagi. Untuk resep-resep lezat lainnya, silahkan langsung ke blog Narasamdya aja ya. Biar lebih puas :)
Ingredients:
Cabe merah
Bawang merah
Bawang putih sedikit
Tomat sedikit
Gula merah
Garam
Air secukupnya
Terasi
Minyak
Directions:
Giling Cabe merah, Bawang merah, bawang putih, tomat, gula merah dan garem. Bila ketika menggiling mandeg, tambahkan air JANGAN MINYAK.
Lalu panaskan hasil gilingan di wajan, aduk-aduk terus hingga kering dan tidak berair lagi. Pada tempat terpisah panaskan minyak.
Apabila adonan cabe sudah kering, masukan terasi dan minyak panasnya. Aduk-aduk hingga adonan cabe, terasi dan minyak tercampur rata, diamkan hingga mendidih, lalu matikan kompor. Selesai deh..
Dapat di simpan di kulkas, tahan lama lo… :D
------
Makasih, mbak Irni. Ilmunya berguna banget buat saya.   Kemarin sempet saya bawa bakwan, tempe goreng, dan sambal terasi itu pas ada acara di rumah Prof suami saya, dan istrinya Prof suka sama sambal terasinya. Alhamdulillah, sekarang saya sudah pede kalau ada pesanan sambal terasi :)
• • •

June 02, 2013

Akhir Pekan yang Sehat

Akhir pekan ini saya memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah dan hal lain yang berhubungan dengan penilaian kinerja di tempat saya bekerja. Saya pun meluangkan waktu untuk membenahi kebiasaan makan saya yang akhir-akhir ini agak sembarangan. Inilah hasilnya: salad bulgur dan gulai jengkol :D


Saya juga berlatih yoga dengan bantuan YouTube selama 20 menit. Sungguh nikmat bisa menikmati akhir pekan yang sehat. Semoga minggu berikutnya bisa lebih baik lagi.
• • •

March 06, 2013

Badai Salju, Pempek dan Tekwan

Dari hari Selasa malam sampai dengan Rabu pagi tadi (5-6 Maret 2013), terjadi badai salju di wilayah yang saya tinggali saat ini. Hari selasa para orang tua dan rekan-rekan di penitipan anak tempat saya bekerja sudah kasak-kusuk tentang kemungkinan libur di hari Rabu ini. Kalau libur ya alhamdulillah, begitu saya berpikir. Saya jadi punya waktu lebih untuk mengerjakan paper kuliah yang harus saya submit minggu depan.


Rabu pagi tadi saya bangun sekitar pukul 4:00 EST. Saya lihat kondisi di luar melalui jendela dan saya mendapati salju sudah begitu tebal. Sungguh sangat berbeda dibanding hari sebelumnya. Melihat gunungan salju itu, saya masih berharap hari ini akan libur.

Kira-kira pukul 5:00 EST, terdengar suara truk pembersih jalan. Truk pembersih itu menaburkan garam yang bisa mempercepat cairnya salju. Sesaat kemudian ada telepon dari rekan kerja yang mengabarkan bahwa penitipan anak akan buka pada pukul 9:30 EST. Setelah itu datang SMS dari kampus Wright State University yang mengabarkan hal serupa. Meskipun tak sepenuhnya libur, saya masih tetap bersyukur. Alhamdulillah saya tak harus keluar rumah pada pukul 6:15 EST seperti biasanya. Saya punya waktu 3 jam yang bisa saya pergunakan untuk mengerjakan hal lain.
Pempek sebelum digoreng
Tekwan untuk Sarapan 
Saya lalu ingat, di kulkas masih ada ikan tilapia/nila yang belum saya olah. Karena suami suka pempek, akhirnya saya putuskan untuk membuat pempek dan tekwan. Pempek saya siapkan untuk hidangan malam, sementara tekwan untuk sarapan. Hmmm, jarang-jarang kami bisa menikmati tekwan di pagi hari, apalagi di hari kerja begini. Hangat dan lezat tiada tara. Kalau salju di luar kami abaikan, rasanya seperti sedang di Indonesia saja :)
• • •

March 02, 2013

Kamar Bayi ala Montessori

Sejak bulan September 2012 yang lalu, saya banyak berada di ruang Infant. Saya jadi banyak belajar mengurus bayi dan segala tetek-bengeknya. Bukan hanya belajar bagaimana memenuhi kebutuhan dasar mereka saja, namun juga belajar mengedukasi mereka. 

Biarpun bayi sering kita pandang sebagai makhluk yang tak berdaya dan belum mengerti apa-apa, ternyata menurut pandangan para ahli pendidikan anak usia dini, para bayi itu justru pembelajar sejati. Sejak mereka dilahirkan, mereka telah siap untuk belajar apa saja. Jadi bila kita sebagai orang dewasa memperlakukannya dengan tidak baik, jangan harap para bayi itu akan tumbuh menjadi seorang yang bahagia dengan segala potensi dan keunikan yang mereka miliki. Untuk itu, membuat rencana kegiatan dan portofolio untuk para bayi itu pun menjadi rutinitas kami. Hal itu pula yang membedakan early childhood educator dengan baby sitter.

Salah satu tugas guru di ruang infant adalah membantu bayi agar bisa memiliki kebiasaan tidur yang baik. Salah satunya dengan menempatkan mereka di crib atau box bayi saat mereka mulai mengantuk. Setiap anak memiliki tempat tidur sendiri yang dihias dengan foto si bayi dan keluarganya. Foto-foto itu ditempatkan di crib agar setiap bayi bisa lebih tenang dan merasakan kehadiran ayah, ibu, dan saudara-saudaranya.

Di USA sendiri, crib bisa dibeli dengan mudah di berbagai pusat pertokoan. Bila ingin murah, bisa juga hunting di toko-toko barang bekas. Pilihannya pun beragam, dari yang murah sampai yang mahal. Nah, saya pun berpikir, kalau misalnya penggunaan crib ini diterapkan di Indonesia (baik itu di rumah maupun di child care), tentu bukanlah pilihan yang murah. Meski saya akui ada sisi baiknya, namun faktor harga crib/box bayi yang tidak murah bisa menjadi kendala bagi orang tua yang ingin membuat anaknya mandiri dalam hal tidur. 

Alhamdulillah, tadi saya baru saja menemukan jawaban dari kegusaran saya. Menata kamar anak dengan prinsip Montessori bisa menjadi salah satu pilihan bila kita ingin anak-anak bisa tidur secara mandiri dari awal, tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk dekorasi kamar. Untuk ruang bayi, kita bisa menggunakan metode Floor-Bed yang contohnya bisa anda lihat di gambar berikuti ini:

1. Floor Bed - Mamamilieu


2. Floor Bed - Twins and Montessori

3. Floor-bed - Montessori on the Double

Foto ketiga memperlihatkan kamar anak kembar bernama Brooke dan Mackenzie. Anda bisa membaca lengkap pengalaman yang ditulis oleh Ibu mereka yang bernama Stephanie Woo di web Montessori on the Double.

Berikut ini adalah dua video yang menggambarkan detail kamar yang ditempati oleh Brooke and Mackenzie:






Contoh lainnya bisa dilihat di link berikut:

Melihat beberapa foto dan video di atas, kegundahan saya mengenai mahalnya biaya pembuatan kamar anak akhirnya bisa terhapuskan. Dengan biaya yang murah dan peralatan yang sederhana, insya Allah kita bisa tetap menghadirkan ruang dan media belajar bagi anak-anak kita.

• • •

August 23, 2012

Summer 2012 - Week 10

Sabtu, 18 Agustus 2012, kami sengaja tak keluar dari hotel. Kami habiskan waktu untuk bersantai dan beristirahat, karena keesokan harinya kami akan pergi seharian ke NYC untuk merayakan Idul Fitri.

-----

Minggu, 19 Agustus 2012, kami keluar dari hotel pukul 5.30 ET. Pagi itu kami terpaksa menyewa taksi karena shuttle bus yang biasa kami pakai ada jadwal mengantar tamu ke tempat lain pada jam yang sama. Alhasil kami harus membayar tarif taksi yang cukup mahal. Tapi tak apalah, toh tidak harus setiap hari menyewa taksi.

Seperti biasa, dari stasiun North White Plains kami naik kereta rute Metro North yang berakhir di Grand Central, NYC. Dari situ kami melanjutkan perjalanan dengan subway dan menuju ke daerah Queens. Ya, hari itu kami pergi ke Masjid Al-Hikmah, masjid masyarakat Indonesia di Queens. Kira-kira pukul 7.30 ET, kami sampai di Al-Hikmah. Beruntung belum terlalu banyak orang, jadi masih bisa mencari tempat sholat dengan leluasa. Sambil menunggu sholat Ied yang dimulai pada pukul 9.00 ET, kami bertakbir bersama dengan jamaah yang lain. 

Sekitar pukul 10.00 ET, rangkaian sholat Ied sesi pertama selesai. Setelahnya, jamaah yang datang terlambat mengikuti sholat pada sesi kedua. Keluar dari masjid, jamaah saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Sungguh kami seperti sedang sholat di tanah air, karena jamaah yang hadir hampir semuanya dari Indonesia. Jamaah wanita pun menggunakan mukena dan berpakaian muslimah khas Indonesia. Ada pula yang berkebaya dan bahkan berkaftan ala Syahrini :D

Di pelataran masjid  kami  berkenalan dengan keluarga Pak Budi dan Mbak Novi (bersama si kecil Farhana yang baru berusia 11 bulan). Pak Budi merupakan senior suami saat kuliah S1 dan saat ini menjadi salah satu staf di Kantor PBB. Kami juga bertemu dengan keluarga Mbak Harnida, Fulbrighter angkatan 2008 yang rencananya akan selesai studi S3 pada Mei 2013 mendatang. Tak hanya berkenalan, kami pun berfoto bersama. Oya, Ustadz Shamsi Ali yang merupakan tokoh muslim penting di AS sempat pula saya abadikan gambarnya secara diam-diam ketika beliau berada di pelataran masjid.

Usai sholat Ied, warga Indonesia bisa menghadiri open house yang diadakan di KJRI New York maupun di kediaman Dubes RI untuk PBB (PTRI/Perwakilan Tetap RI) di New Rochelle, NY. Karena belum pernah mengunjungi KJRI NY, akhirnya kami putuskan untuk mengikuti open house disana. 

Sampai di KJRI NY, ternyata kami harus menunggu sekitar 15 menit sebelum open house dimulai. Padahal sudah banyak warga Indonesia yang menunggu di depan gedung. Agar tak bosan menunggu, berfotolah saya untuk kenang-kenangan dan ajang narsis :D

Begitu pintu dibuka, kami harus mengisi buku tamu terlebih dahulu. Sebelum menyantap hidangan, kami berfoto sempatkan bersama Bapak Konsul Jenderal dan Istri. Setelah itu barulah kami menyerbu hidangan  yang tersedia. Ada Lontong Sayur, Opor Ayam, Sambal Goreng Kentang, Telor Bacem, Kerupuk, Sambal Terasi, Bihun Goreng, Siomay, Bolu Kukus Mekar, Putu Ayu, dan Es Kelapa. Tadinya sempat berharap ada rendang, tapi ternyata nihil :D

Saat open house tersebut kami berjumpa beberapa teman Fulbrighter, teman di IBM, dan satu mahasiswi suami yang mengikuti orang tuanya bertugas sembari kuliah program MBA di salah satu universitas swasta di NYC. Saya sendiri sempat penasaran dengan salah satu sosok yang sepertinya sering saya lihat di media. Saya menebak itu James F. Sundah, tapi beberapa teman yang saya tanyai juga tak tahu pasti apakah benar itu beliau. Sesampai di hotel, saya sempatkan googling dan ternyata memang benar itu James F. Sundah. Beruntung saya sudah mengambil fotonya, meski secara diam-diam. Juga ada Kia AFI yang entah sedang studi atau ada kegiatan lain di NY. 

Alhamdulillah, sudah 10 minggu di NY. Sudah sangat kangen dengan apartemen mungil kami di Dayton, OH. Ingin bisa membuat gorengan lagi dan masak yang pedas-pedas :D 
• • •

Summer 2012 - Week 9

Sabtu, 4 Agustus 2012, kami pergi ke Top Line Supermarket di Elmhurst, NYC. Sebetulnya hari itu kami tak terlalu bersemangat untuk jalan-jalan. Rasanya ingin menghabiskan waktu hanya di hotel saja. Ditambah lagi cuaca Armonk (NY) hari itu tak terlalu bersahabat. Mendung dan bahkan hujan deras turun ketika kami berada di shuttle bus menuju ke stasiun North White Plains.

Hari itu kami harus tetap pergi ke NYC, karena ada pesanan produk Indonesia dari teman di Ohio yang harus segera kami kirimkan. Sebetulnya teman tersebut tidak mengharuskan kami untuk mengirim pesanannya pada hari itu, namun kami ingin kiriman tersebut bisa sampai padanya sebelum lebaran tiba. Ya, siapa tahu teman tersebut ingin merayakan lebaran dengan membuat kue-kue khas Indonesia menggunakan bahan-bahan yang ia pesan pada kami. Akhirnya dengan penuh semangat kami tetap berangkat. Alhamdulillah di dekat Top Line ada kantor pos, sehingga misi pengiriman barang hari itu bisa tercapai.

Keluar dari kantor pos, rasanya sudah ingin cepat kembali ke hotel. Kami lalu membeli kebab kambing di gerobak Halal Food yang ada di dekat kantor pos tersebut. Tentu tak langsung kami santap, karena hari itu kami puasa. Kebab tersebut kami bawa pulang dan kami santap saat buka dan sahur. Alhamdulillah...
• • •

Summer 2012 - Week 8

Sabtu, 4 Agustus 2012, saya dan suami membuat janji untuk bertemu dengan empat Fulbrighters angkatan 2012 asal Indonesia yang sedang Pre-Academic di St. John's University, Manhattan, NYC. Kami berangkat sepagi mungkin dari hotel, yakni pukul 5.00 ET. Menggunakan kereta ekspres yang berangkat pukul 6.01 ET dari stasiun North White Plains, kami tiba di Grand Central sekitar pukul 6.40 ET.  Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Battery Park dengan menggunakan subway No. 4. 

Sampai di Battery Park sebelum pukul 7.30 ET, ternyata teman-teman Fulbrighter belum datang. Loket penjualan tiket kapal feri yang akan membawa kami ke Liberty dan Ellis Island juga masih tutup. Waktu menunggu tersebut kami gunakan untuk berfoto dan menikmati pinggir pantai yang belum terlalu ramai pengunjung.

Tepat pukul 7.45 ET, teman-teman Fulbrighter telah tiba di tempat dan loket penjualan pun telah dibuka.  Kami membeli tiket kapal feri sebesar $17/orang (termasuk didalamnya bonus audio tour).

Kami harus mengantri sebelum masuk ke kapal feri. Sambil mengantri tersebut, kami berbincang mengenai bagaimana pengalaman hidup di Amerika dan tips agar bisa berhemat selama studi. Maklum obrolan pelajar yang beasiswanya tak seberapa banyak :) Namun apapun yang terjadi, kami tetap bersyukur. Tak semua orang punya kesempatan belajar di luar seperti yang suami dan teman-temannya dapatkan.

Setelah mengantri kira-kira 30 menit, kami naik ke kapal feri dan menikmati perjalanan di atas geladak kapal. Hati kami begitu gembira ketika akhirnya bisa melihat patung Liberty dari dekat. Rasanya semua penasaran terbayar, karena inilah salah satu tempat yang wajib didatangi saat mengunjungi AS. Bagaimana tidak, mendengar kata AS tentu pikiran banyak orang langsung tertuju pada patung Liberty. Dan hari itu kami berada di dekatnya. Kami berfoto sepuasnya sebagai bukti kami telah mengunjungi salah satu icon AS tersebut.

Setelah puas menikmati Liberty, kami naik kapal feri kembali dan menuju ke Ellis Island. Disana kami hany sempat menikmati sebagian isi museum, karena tenaga kami sudah cukup terkuras saat mengunjungi Liberty. Apalagi saat itu kami semua puasa dan hari itu panas cukup menyengat. Alhasil, dua teman kami pun sukses tertidur di salah satu bangku museum :) Karena semangat sudah tak lagi membara (cie...:D), akhirnya kami putuskan menaiki kapal feri lagi dan kembali ke Battery Park.

Sebelum kembali ke hotel, kami sempat mengunjungi asrama tempat teman-teman Fulbrighters tinggal selama Pre-Academic. Saya senang sekali mengetahui di dekat asrama tersebut ada Whole Foods, sebuah supermarket yang banyak menjual makanan organik, termasuk tempe. Langsung saja saya borong empat jenis tempe yang dijual disitu dengan harga $2,19/buah. Alhamdulillah, Liberty dapat, tempe pun ada di genggaman :) 
• • •

Summer 2012 - Week 7

Sabtu, 28 Juli 2012, saya dan suami mengunjungi The New York Hall of Science, sebuah museum sains yang berada di wilayah Queens, NYC. Kami tidak tahu alasan mengapa Hall of Science didirikan di pinggiran timur NYC dan tidak berada di dekat downtown atau pusat kota. Area dimana museum tersebut didirikan merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh kaum imigran, baik itu imigran Cina, India/Pakistan, maupun Hispanic/latin. Dalam perjalanan dari stasiun menuju ke museum tersebut, kami seperti tak sedang berada di Amerika, sebab warga Amerika (di Indonesia biasa disebut bule) baik yg white maupun black, seperti menjadi minoritas di kawasan tersebut karena jarang kami temui.

Sampai di loket penjualan tiket, suami hanya perlu menunjukkan Kartu Pegawai IBM sebelum akhirnya kami berdua mendapatkan stiker sebagai tanda masuk. Ya, hari itu kami tak perlu membayar biaya masuk :) Alhamdulillah...

Hall of Science memiliki koleksi pembelajaran sains yang unik dan cukup lengkap. Tak heran bila banyak anak kecil mengunjungi museum tersebut, baik sekedar berkunjung maupun untuk mempelajari sesuatu. Disitu materi sains yang awalnya terkesan serius, justru menjadi suatu permainan yang menyenangkan.

Hari itu kami juga sempat menyaksikan film 3D berjudul "Wild Ocean" yang bercerita tentang kehidupan bawah laut di Afrika Selatan. Dalam film tersebut juga diceritakan mengenai migrasi ribuan ikan sardin di sepanjang garis pantai KwaZulu-Natal yang menjadikan berkah tak hanya bagi ikan-ikan lain (seperti hiu, paus, lumba-lumba), namun juga para nelayan yang mendapat peningkatan jumlah tangkapan ikan.

Ternyata museum tak harus selalu berkesan serius. Museum pun bisa menjadi pilihan bagi rekreasi keluarga sembari menimba ilmu dengan cara yang menyenangkan.
• • •

August 22, 2012

Summer 2012 - Week 6

Setelah bertemu pada malam sebelumnya dengan keluarga Mbak Vita di Staten Island, pada hari Senin, 16 Juli 2012, saya janjian untuk bertemu kembali dengan mereka di Museum Lilin - Madame Tussauds yang ada di kawasan Times Square, NYC. Kali ini saya ke NYC sendiri, karena suami harus pergi magang. 

Saya sampai di Times Square sekitar pukul 10.30 ET. Untuk melihat koleksi yang ada di Madame Tussauds, saya harus membayar $36 (belum termasuk pajak). Karena  membawa kupon diskon, hari itu saya cukup membayar $34 (sudah termasuk tax). Tetap saja mahal :( 

Karena keluarga mbak Vita masih dalam perjalanan, saya tak langsung masuk ke ruang pamer. Saya putuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sembari menunggu mereka datang. Seperti biasa, saya membeli Kebab Kambing (Lamb over Rice) di gerobak Halal Food yang terletak di atas stasiun subway 42nd st - Port of Authority dan dijual dengan harga $5/porsi. Saya meminta izin pada pedagangnya untuk langsung menikmati menu tersebut di dekat gerobaknya sembari duduk di atas kotak minuman (krat) yang sudah tak terpakai lagi. Sebetulnya agak malu makan di pinggir jalan seperti itu, tapi entah malu pada siapa. Toh tak ada satupun orang yang mengenal saya :D 

Kira-kira pukul 11.30 ET, saya sudah berada kembali di depan Madame Tussauds. Tak lama kemudian Mbak Vita, suaminya dan ketiga putrinya tiba di tempat. Kami berenam bersama-sama memasuki ruang pamer dan menikmati patung orang-orang terkenal didalamnya. Tak ketinggalan kami berfoto dengan "orang-orang terkenal" itu. 

Di Madame Tussauds, kami tak hanya bisa menikmati patung-patung. Ada juga ruang theater yang kala itu memutar film 4D - Marvel Super Heroes. Tak berbeda dengan film 3D yang membuat kita serasa berada langsung dalam cerita tersebut, nah saat pertunjukkan itu terdapat keunikan lain dimana ada sedikit air menyembur dari sela-sela kursi penonton. Untung tak sampai basah kuyup :)

Kira-kira pukul 14.00 ET, saya buru-buru pamit pada keluarga mbak Vita. Saya hendak mampir ke Upi Jaya untuk membeli Rendang (seperti biasa :D) dan tak ingin terlambat pulang. Pikir saya waktu itu, sebisa mungkin sebelum pukul 16.00 ET saya sudah menaiki kereta balik ke White Plains. Bila tidak, saya harus bersiap dengan kepadatan di dalam kereta, karena pada pukul 16.00 - 20.00 adalah jam sibuk dimana orang-orang pulang dari kantor. Sebenarnya ingin menemani keluarga mbak Vita jalan-jalan lebih lama, tapi apa daya tempat hotel tempat saya tinggal jauh dari downtown NYC. Mudah-mudahan lain waktu bisa jalan-jalan bersama lagi.

------

Pada hari ke-2 puasa Ramadhan (Sabtu, 21 Juli 2012), saya dan suami pergi kembali ke NYC. Kali itu kami punya tujuan yang berbeda. Saya pergi ke China Town, sedangkan suami mengunjungi Museum Intrepid untuk bertemu dengan salah satu mahasiswanya yang mendapat Green Card dan kini tinggal di NYC.

China Town tidak akan saya bahas terlalu dalam, karena layaknya China Town di tempat lain, kawasan tersebut menjadi surga bagi turis yang ingin mencari oleh-oleh. Sebagai gantinya, akan saya tampilkan beberapa foto yang menggambarkan Museum Intrepid. 

Intrepid merupakan museum yang baru dibuka pada hari Kamis, 19 Juli 2012. Museum tersebut unik karena berada di atas bekas kapal induk dan ditempatkan di pinggir Sungai Hudson. Koleksinya meliputi berbagai alat maupun pesawat milik angkatan udara dan laut Amerika Serikat, serta pernah dipakai di kapal induk tersebut. Di atas kapal induk tersebut juga dipamerkan Enterprise, pesawat ulang-alik yang dipergunakan hanya untuk uji coba (tidak diterbangkan keluar angkasa).  

Di sebelah kapal induk dipamerkan juga Concord, sebuah pesawat penumpang supersonik yang beroperasi pada tahun 1969 s.d 2003. Pesawat yang melebihi kecepatan suara tersebut melayani rute London - NY, Paris - NY, dan London - Washington DC. Kecepatan sebuah pesawat supersonik 2x lebih cepat dibanding pesawat komersial biasa. Sebagai contoh, rute London - NY yang biasanya ditempuh dalam waktu 8 jam, dengan pesawat supersonik hanya membutuhkan waktu 3,5 jam. Benar-benar menakjubkan bukan? 
• • •

Summer 2012 - Week 5

Sabtu, 14 Juli 2012, kami pergi ke Washington DC dan Maryland.  Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 6.30 ET. Dengan mobil yang kami sewa, waktu tempuh dari Armonk (NY) ke DC sekitar 5,5 jam.  Selama perjalanan tersebut, total uang tol yang harus kami membayar sekitar $25. Cukup mahal, tapi itulah jalur tercepat yang bisa kami lalui. Mungkin melalui jalur lain kami tak harus membayar uang tol, tapi jarak tempuhnya tentu bisa lebih lama.

Sampai di DC, kami memarkir kendaraan di sebuah gedung dekat Dupont Circle. Tarif parkir yang harus kami bayar saat itu sebesar $11. Dari tempat parkir, kami berjalan menuju Kantor Kedutaan Besar RI untuk Amerika Serikat yang terletak tak jauh dari Dupont Circle. 

Setelah berfoto di depan Kedubes RI, kami berjalan ke stasiun subway terdekat. Berbeda dengan stasiun subway di NY yang terkesan sumpek dan panas, stasiun subway di DC terlihat lebih bersih dan teratur. Memang jalur subway NY sudah jauh lebih tua dan lebih banyak dibanding DC. Bila di DC jalur subway hanya ada dua per stasiun subway (dengan bentuk menyilang, dua tingkat), sedangkan di NY jalurnya subway-nya bisa mencapai empat tingkat untuk stasiun tertentu).

Menaiki subway, kami menuju ke Library of Congress (perpustakaan yang koleksinya terbanyak di dunia). Mengunjungi gedung tersebut seperti tak sedang mengunjungi sebuah perpustakaan. Gedung tuanya sungguh megah dan artistik. Sebelum masuk, kami harus rela antri dan menjalani pemeriksaan barang bawaan. Sayangnya Children's Corner yang merupakan favorit saya bila berkunjung ke suatu perpustakaan, yakni ruang dimana koleksi buku anak ditempatkan, hari itu tidak buka. Sedikit kecewa, tapi Insya Allah kami akan datang lagi lain waktu (entah kapan tepatnya) dan berusaha datang di hari kerja agar bisa menikmati koleksi di Children's Corner.

Letak Library of Congres berseberangan dengan The Capitol. Di The Capitol kami berfoto di dua sisi. Di salah satu sisi terdapat balkon dimana pelantikan Presiden AS dilaksanakan. Saat pelantikan, presiden mengucapkan sumpah di hadapan massa yang berkumpul memenuhi area sekitar gedung tersebut. Dari area tersebut, dari kejauhan kami dapat melihat National Monument yang baru kami dekati pada keesokan harinya.

Karena jam sudah menunjuk pukul 16.30 ET, kami memutuskan mengambil mobil dan membeli sedikit buah tangan di Whole Foods untuk dibawa ke rumah Pak Roni dan Mbak Narti di Maryland. Ya, pada malam harinya kami menginap di rumah beliau berdua, yang kami kenal dua minggu sebelumnya saat kami berkunjung ke Boston (MA). Kami sengaja cepat mengakhiri jalan-jalan hari itu karena pada pukul 18.00 ET beliau berdua hendak mengikuti rapat guna membahas kegiatan menjelang Ramadhan.

Sampai di rumah Pak Roni, saya berkenalan dengan Mbak Dyah. Beliau sudah hampir tiga tahun terakhir kost disitu bersama dua rekan lainnya. Oya, hari itu kami menginap di bagian attic/loteng. Duh, jadi ingin buat ruang di loteng juga saat renovasi rumah di depok nanti :D Insya Allah.

Usai mandi, menumpang mobil sedan milik Pak Roni, bersama-sama kami menuju tempat rapat dan berada disana sampai kira-kira pukul 22.30 ET. Layaknya acara masyarakat Indonesia lainnya, rapat hari itu diisi pula dengan acara makan-makan :)

Keesokan paginya, usai mengobrol mengenai berbagai topi sembari sarapan, kami meninggalkan rumah Pak Roni sekitar pukul 9.00 ET. Tak lupa kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan. 

Meninggalkan rumah Pak Roni di Maryland, kami menuju ke DC kembali. Sebelum mulai jalan-jalan, kami memarkir mobil di salah satu sudut jalan dekat National Museum of African Art. Dari situ kami berjalan menuju ke Smithsonian National Air and Space Museum. Awalnya suami tertarik untuk melihat langsung salah satu pesawat ulang alik yang baru dipensiunkan. Ternyata pesawat ulang-alik tersebut tidak disimpan di DC, melainkan di Dulles Air and Space Museum yang masuk wilayah Virginia.

Di Air and Space Museum tersebut kami bisa menyaksikan kecanggihan teknologi kedirgantaraan yang dimiliki Amerika Serikat, baik itu untuk keperluan perang maupun ilmu pengetahuan. Kami bisa melihat berbagai macam pesawat, roket, laboratorium angkasa luar, dan lain-lain. Disitu kami juga sempat masuk ke planetarium dan menyaksikan film "Journey to the Stars".

Usai mengunjungi Air and Space Museum, kami berjalan menuju ke National Monument dan berfoto disana. Setelah itu kami berjalan menuju White House yang menjadi penutup perjalanan kami ke DC saat itu. Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang belum kami kunjungi. Jadi sepertinya kami akan kembali lagi ke DC satu saat nanti, insya Allah.

Sebelum kembali NY, kami sempat mampir ke rumah Pak Roni karena tempat kamera dan jaket saya tertinggal disana. Duh malunya... Jadi reminder, bila menginap dimanapun harus re-check apapun barang bawaan saya. Semoga lain kali tak akan lupa lagi :)

Di tengah perjalanan menuju NY, saya mengontak mbak Vita (teman satu kota di Ohio) yang hendak menginap beberapa malam di Staten Island. Suami ingin menemui keluarga mbak Vita, karena keesokan harinya ia tak bisa menemani mereka jalan-jalan di NYC. Tak disangka, mobil kami berada di rute yang sama. Saat itu kondisinya jalan cukup macet. Agar mudah, kami janjian untuk bertemu di Staten Island.

Mobil kami lebih dulu sampai di Staten Island dan saat itu hari sudah mulai gelap. Sembari menunggu mbak Vita, kami memarkir mobil di sebuah Gas Station. Agak lama juga menunggu, karena mereka sempat nyasar dan tanpa sadar mobil mereka berhenti di dekat pemakaman umum :D Alhamdulillah, dengan izin Allah, akhirnya kami bisa bertemu dan mengobrol sekitar satu jam lamanya dengan mbak Vita dan keluarga. Setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan ke hotel kami di Armonk, NY.
• • •

August 21, 2012

Summer 2012 - Week 4

Sabtu, 7 Juli 2012, saya dan suami mengunjungi Times Square, pusat hiburan dan perbelanjaan terpadat di kawasan Manhattan, NYC. Dari hotel menuju ke stasiun North White Plains, kami menumpang shuttle bus. Sejak hari itu, kemanapun hendak pergi (asalkan masih di dalam kota), sebisa mungkin kami menggunakan shuttle bus tersebut. Ada fasilitas gratis, sayang bila tak kami manfaatkan.

Dari stasiun North White Plains ke Grand Central, kami menumpang kereta rute Metro North. Sampai di Grand Central, kami berjalan kaki menuju ke Times Square. Kami sempat melewati gedung megah New York Public Library (NYPL) beserta Bryant Park di sebelahnya.
New York Public Library (NYPL)
Mendekati Times Square, saya sempat memotret kesibukan di persimpangan antara Broadway dan West 42nd. Saya juga memotret Museum Lilin - Madame Tussauds dan Hard Rock Cafe (hanya di luarnya saja :))

Persimpangan Broadway & 42nd
Madame Tussauds - NYC
Hard Rock - NYC

Tanpa direncanakan sebelumnya, kami memasuki Toys R Us. Disitu kami mendapati keunikan karena ada komidi putar didalamnya. Juga ada area yang memamerkan beraneka bentuk replika yang terbuat dari lego, seperti Patung Liberty, Lipstick Building, dan juga Hulk. Juga ada replika Dinosaurus dan suaranya yang cukup menarik perhatian, patung Spiderman dan mobil yang bergelantungan di atap, Barbie, serta Candy Land.
Patung Liberty dari Lego di Toys R Us - Times Square 
Setelah itu kami pergi ke Hershey - Chocolate World, sebuah toko coklat yang letaknya berseberangan dengan toko permen M & M. Disitu tersedia beranerka permen coklat dengan berbagai rasa dan bentuk, termasuk beberapa coklat berukuran besar yang khusus dijual di toko tersebut. Selain berfoto, sebelum beranjak keluar kami membeli sebungkus coklat rasa kelapa.

Dari kawasan Times Square, kami berpindah ke American Museum of Natural History. Menarik melihat beragam koleksinya yang bisa menjadi rujukan penting bagi pembelajaran sains. Sayangnya hari itu kami tak masuk ke planetarium yang arsitekturnya berbentuk bola raksasa.

Pecel - Upi Jaya, Elmhurst, NY
Sekitar pukul 15.30 ET, kami keluar dari museum dan menuju ke Elmhurst. Ya, kami kembali menyambangi Warung Padang Upi Jaya. Disana suami memesan Nasi Rames Rendang, sementara saya memesan Pecel. Kedua pesanan tersebut dibungkus dan kami santap di Grand Central (sembari menunggu kereta balik menuju ke White Plains).
• • •

August 20, 2012

Summer 2012 - Week 3

Sabtu, 30 Juni 2012, kami pergi ke Boston dengan mobil sewaan. Ini pertama kalinya suami menyetir mobil jarak jauh. Perjalanan dari Armonk ke Boston memakan waktu sekitar tiga jam. Kami berangkat sekitar pukul 10.00 ET dan sampai disana sekitar pukul 13.00 ET.

Tujuan pertama kami adalah sebuah taman di pinggir Sungai yang berada dekat dengan University of Massachusetts - Lowell. Disitu kami bertemu dengan beberapa warga Indonesia yang sedang piknik dan menikmati kebersamaan sebelum Ramadhan tiba. Kami berkenalan dengan keluarga Pak Aris dan Mbak Dewi bersama kelima buah hatinya. Di rumah beliau berdualah kami bermalam. Kami juga bertemu dengan keluarga Mbak Intan (yang keesokan harinya akan back for good ke Yogyakarta) dan Mbak Minda (yang dengan senang hati bercerita mengenai pengalamannya mendapatkan buah hati).
Piknik di Pinggir Sungai
Sekitar pukul 17.00 ET, acara selesai dan kami melanjutkan perjalanan ke kediaman Pak Aris dan Mbak Dewi di kota Stow. Di tengah perjalanan, kami sempat mampir ke toko Asia dan toko organik langganan Mbak Dewi. 
Toko Organik 
Di kediaman Mbak Dewi, suasana malam itu cukup semarak karena selain saya dan suami, ada Pak Roni dan Mbak Narti (Maryland) yang juga menginap disana. Beliau  berdua hendak melakukan perjalanan ke Quebec, Montreal dan Toronto (Kanada) pada keesokan harinya. Menu makan malamnya cukup menggiurkan, yakni Ikan Bakar yang khusus dipersiapkan oleh Ikhsan (putra Pak Aris dan Mbak Dewi). Hmm....sedap!

Bersama Mbak Narti dan Mbak Dewi di Stow, MA
Keesokan paginya, kami berangkat pukul 8.00 ET menuju ke kota Boston. Tadinya kami sempat konvoi dengan mengikuti mobil Pak Roni, sayangnya kami baru sadar kalau bensin sudah waktunya diisi. Jadilah kami berpisah di jalan dan baru bertemu kembali dengan beliau saat sudah sampai di Boston.

Setelah memarkir mobil di sebuah gedung dengan tarif $15 selama sehari penuh, kami membali tiket Old Town Trolley Tour, sebuah bus terbuka yang mengelilingi kota Boston. Untuk berkeliling kota Boston, pengunjung bisa memilih berbagai alternatif trolley atau bus pariwisata. Harga dan tawaran rutenya pun bervariasi. Ada yang hanya berkeliling di daratan, namun ada juga yang menggunakan kendaraan multifungsi yang bisa digunakan di air. Terus terang kami sedikit menyesal membeli tiket trolley yang mahal tersebut, sebab Boston ternyata pusat kotanya kecil. Kalaupun kami tak membeli tiket itu pun, kami tetap bisa leluasa menikmati Boston dengan mudah. Tapi ya itulah seninya jalan-jalan di tempat baru. Kalau ada rugi atau sedikit pemborosan, itu hal biasa. Namanya juga bukan di daerah sendiri :)





Saat itu, alhamdulillah kami bisa mampir menyaksikan KRI Dewaruci yang sedang singgah di Boston. Itu merupakan persinggahan terakhir sebelum kapal pulang kembali ke Indonesia. Rencananya setelah perjalanan tersebut KRI Dewaruci akan dipensiunkan dan diganti dengan kapal lain yang lebih baru.
KRI Dewaruci di Boston Harbor
Demikian sekelumit cerita jalan-jalan kami di Boston pada minggu ketiga Summer 2012. Insya Allah akan berlanjut dengan cerita pada minggu-minggu berikutnya.

• • •