April 29, 2005

Taschan Mendongeng (2)

Pukul 08.45 WIB, kami pergi ke RumCay. Pada pukul 09.30 WIB, sampailah kami di sana. Ternyata belum banyak anak berkumpul. Pengurus RumCay yang sudah hadir saat itu hanya Mas Denny, Mbak Tami, dan Mas Ratno. Setelah meminjam boneka monyet dan kelinci, akhirnya saya dan Amy berlatih lagi. Terutama latihan voice dan ekspresi wajah. Ya, berhubung tak ada boneka kancil, kami pun lalu mengganti judul dongeng kami hari itu menjadi “Monyet dan Kelinci”.

Pukul 10.15 WIB, acara pun dimulai. Kami memulainya dengan perkenalan dan bernyanyi bersama. Awalnya. Mereka masih pasif dan malu-malu. Tapi, lama-kelamaan, mereka bisa ekspresif juga.

Pada pukul 11.00 WIB, cerita tentang “Monyet dan Kelinci” pun kami akhiri. Melihat wajah imut mereka yang masih “haus” untuk didongengi, saya pun berinisiatif agar acara tetap bisa berlanjut.

“Adik-adik masih mau denger cerita lagi?” tanya saya menawarkan.

“Mau…,” jawab mereka serempak.

“Oke, kakak akan bercerita lagi tentang dua ekor kelinci yang bersahabat. Namanya Mola dan Moli.”

Lalu saya pun bercerita sambil melipat kertas origami yang telah saya siapkan dari rumah. Belum beberapa lama berlangsung, acara pun terhenti sejenak. Atas saran dari seorang ibu yang hadir saat itu, saya pun meminta bantuan beberapa teman untuk menyiapkan kertas HVS sebagai kertas origami yang jumlahnya terbatas itu.

Setelah siap, saya pun bercerita kembali dari awal, sambil mengajari mereka melipat kertas-kertas itu menjadi sebuah topi. Ternyata, keakraban kami terus terjalin sampai acara harus kami akhiri pada pukul 11.30 WIB.

Wah,benar-benar pengalaman menyenangkan. Saya jadi merasa beruntung karena bisa tampil spontan hari itu. Coba kalau saya pentas tanggal 8 Mei 2005 nanti, tentu saya akan lebih pusing dan repot menyiapkannya. Padahal, asal kita sudah hapal jalan cerita dan mau berekspresi saat mendongeng, anak-anak pun pasti akan tertarik. Dan yang jelas, saat acara berlangsung, kita pun harus melibatkan anak-anak itu. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah…”Mendongenglah dengan Cinta”.

==============
Note:
Thanks for Amy yang dah bantu taschan dalam acara dongeng itu. Kapan-kapan kita pentas berdua lagi ya… :D
==============

Material, 25/04/2005
05:10 WIB
• • •

Taschan Mendongeng (1)

Setelah mengikuti Workshop Mendongeng di Fakultas Ilmu Budaya - Universitas Indonesia (FIB-UI) pada hari Kamis-Jum’at, tanggal 14-15 April 2005, para mentor menyarankan peserta untuk sering mempraktekkan ilmu yang telah didapatkan di kelas. Baik di lingkungan kerja maupun di komunitas gaul kami masing-masing. Para mentor dongeng yang hadir saat itu adalah Drs. Suyadi (Pak Raden), Kak Agus D.S. dan juga Ibu Nina Martini (Dosen JIP FIB-UI).

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya yang masih belum tahu dimana tempat mempraktekkan ilmu yang baru saja saya dapatkan tersebut, tiba-tiba mendapatkan tawaran untuk mengisi sesi mendongeng di Rumah Cahaya (RumCay), Depok. Sesi yang ditawarkan pada saya adalah sesi hari Minggu, 8 Mei 2005 pukul 10.00 – 12.00 WIB. Meski masih merasa ragu, saya pun menyanggupinya. Ya hitung-hitung latihan buat saya :D

Tiba-tiba, pada Sabtu Malam 23 April 2005 pukul 20.00 WIB yang lalu, ketika saya mengecek HP, di layar terbaca ada miscall 2x dari nomor telpon RumCay. Dengan penuh tanda tanya, saya balik menghubungi.

“Assalamu ‘alaikum”, sapa seseorang di sana. Dari suaranya, saya tahu bahwa itu Mbak Tami, salah seorang pengurus RumCay.

“Wa ‘alaikum salam,” jawab saya. “Ini Taschan, Mbak. Tadi telpon ke HP-ku ya? Ada apa?”

“Oh iya. Gini, besok kan mbak Vita enggak bisa ngisi acara dongeng. Gimana kalo diganti Taschan aja?”

Gubrak! Saya terkaget mendengarnya.

“Yang bener? Serius nih?” tanya saya lagi.

“Masak aku boong sih? Kalo enggak percaya, tanya aja nih sama mas Denny,” terangnya dengan nada santai.

Suara di seberang pun lalu berganti dengan suara Denny Prabowo, yang baru saja diangkat menjadi Ketua Penanggung Jawab RumCay.

“Halo,” sapanya.

Bla…bla…bla…

Intinya, sebisa mungkin saya harus bisa mengisi sesi dongeng pada keesokan harinya.

Setelah berpikir sejenak, saya lalu menghubungi Amy, adik kelas saya, via SMS. Saya sengaja menghubunginya, karena merasa belum percaya diri (PD) untuk mendongeng sendirian. Mau saya, malam itu juga kami latihan untuk acara mendongeng itu. Tapi karena Amy ada acara Malam Keakraban (Makrab) angkatan 2003 di Asrama UI – Depok, akhirnya saya pun hanya bisa mencari beberapa dongeng di Kompas Anak yang telah saya bundel sebelumnya. Akhirnya saya pilih cerita tentang “Monyet dan Kancil”.

Keesokan paginya, sesudah shubuh saya pergi ke kost-an Amy yang berada tak jauh dari tempat tinggal saya di bilangan Kampung Sawah, Jakarta Selatan. Waktu saya sampai, rupanya ia baru saja bangun. Tampaknya, ia kelelahan setelah semalam menghadiri acara Makrab.

Usai Amy sholat shubuh, kami pun berlatih. Agak malas-malasan juga, karena kami belum tahu apa yang akan kami perbuat nanti. Tapi dari segi persiapan, tampaknya Amy lebih jago. Karena kala ia pulang kampung, ia sering mendongeng untuk adiknya yang masih TK. Sedang saya sendiri, belum pernah sekali pun mendongeng.

Pagi itu, kami hanya berlatih sekitar satu jam. Setelahnya, kami memasak mie goreng lalu menikmatinya sambil menonton tayangan Chibi Maruko-Chan, kartun kesukaan saya.
• • •

Tuntas Sahanaya :D

Saya sangat suka mendengarkan musik. Apalagi, kala saya sedang dilanda sedih. Musik benar-benar menjadi obat mujarab yang tak terelakkan. Rasanya, hidup akan makin sepi, tanpa musik mengiringi langkah-langkah saya.

Hmm, ngomong-ngomong soal musik kesukaan, saya sih sebetulnya tak punya patokan yang saklek. Asal easy listening, ya ayo aja. Memang sih saya paling suka yang nge-pop, jazz dan R&B. Tapi di luar itu, saya pun menyukai beberapa lagu nasyid. Apabila sedang gundah, saya pun terkadang mendengarkan murattal untuk menenangkan hati.
Image hosted by Photobucket.com
(Ruth Sahanaya, Astaga)

Untuk penyanyi pop, saya paling suka sama Ruth Sahanaya (Uthe) dan Sheila Majid (Sheila). Untuk jazz, saya suka Al Jarreau dan Dave Koz (beserta saxophone-nya). Sedang untuk penyanyi R&B, yang saya suka adalah Whitney Houston.

Image hosted by Photobucket.com

(Ruth Sahanaya - Yang Terbaik)

Khusus untuk Uthe dan Sheila, saya memang mengumpulkan beberapa album-nya. Uthe sudah saya suka sejak debut “Kaulah Segalanya” muncul. Tapi saya baru memiliki kasetnya pada pertengahan 1997, tepatnya pada tanggal 16 juni 1997. Waktu itu yang pertama kali saya punya adalah album “Yang Terbaik”. album itu merupakan kumpulan beberapa lagunya yang sempat nge-hits. Saya mendapatkan kaset itu di salah satu toko kaset di Pasar Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Saat itu saya sedang jalan-jalan bersama Tante Ita (adik sepupu ayah saya) dan Om Rahmat yang baru saja menikah (Kapan balik dari Vietnam?).
Image hosted by Photobucket.com
(Sheila Majid - Gemilang)
Dan ah ya, pada saat yang bersamaan, saya juga membeli kaset Sheila yang bertajuk “Gemilang”. Setelah saya cek ke official web-nya, barulah saya tahu bahwa ternyata album tersebut dirilis dalam dua versi, yakni Malaysia dan Indonesia. Komposisi lagu kedua versi itu pun, tentu saja berbeda.

Beberapa bulan setelahnya, saya tak membeli album dari kedua penyanyi tersebut. memang begitulah saya. Jika nge-fans sama satu artis, saya enggak bisa terlalu nge-fans. Secukupnya saja. Kalau memang sedang ada doku, ya beli kasetnya. kalau sedang tak bisa beli, ya kan bisa ndengerin dari radio atau liat di TV :D

Saya baru punya kaset lagi pada akhir 1997. Itu pun setelah dapat oleh-oleh dari seorang kakak kelas yang baru saja pulang dari Pelatihan Olimpiade Matematika di Bogor. Padahal waktu di Bogor itu, ia sempat kecopetan. Untunglah sebelum itu, ia sudah sempat membelikan kaset untuk saya :D Kaset itu bertajuk “Cinta Jangan Kau Pergi” dari Sheila. Kaset yang diproduksi oleh EMI tersebut, hanya beredar di Indonesia. Sayangnya di official web-nya Sheila, tak saya temukan image album tersebut. Jadi saya tak bisa memberi gambaran lengkap mengenai cover albumnya. Maaf ya... (btw, thank kasetnya ya, kak... kaset itu masih terawat dengan baik dan dek dengerin sampai sekarang).
Image hosted by Photobucket.com
(Ruth Sahanaya - Uthe!)

Tak lama setelah itu, pada pertengahan 1998, saya pun membeli album Uthe! Hits untuk Album Uthe! adalah “Bawa Daku Pergi”. Saya tak ingat pasti kapan saya membeli kaset itu. Karena saya lupa tak menuliskan tanggal pembeliannya, di cover kaset itu.

Wah...habis itu, beberapa album Uthe maupun Sheila saya lewatkan begitu saja. Saya tetap mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi tak mengikuti secara intensif perkembangannya. Kadang saat berkunjung ke toko kaset dan melihat album terbaru mereka terpajang di etalase, entah kenapa saya jadi tak terlalu bernafsu untuk membeli. Mungkin karena budget untuk itu emang lagi enggak tersedia. Tapi ada untungnya sih, karena saya jadi tak terlalu boros :D
Image hosted by Photobucket.com
(Ruth Sahanaya - Tak Kuduga)
Pada akhir 2002, saat saya ke Bandung, saya sempatkan mengunjungi salah satu toko kaset di bilangan Jln. Dago. Toko kaset itu terbilang lengkap, karena selain kaset-kaset baru, mereka pun juga menyediakan beberapa kaset lama yang sudah tak lagi beredar. Termasuk kaset-kaset dari Uthe. Setelah menimbang dan berpikir sejenak, saya pun memutuskan membeli albumnya yang bertajuk “Tak Kuduga”. Saya pilih album itu hanya karena di dalamnya ada lagu yang berjudul “Jika Daku Jatuh Cinta”, yang memang belum saya temukan di dua album yang sebelumnya saya beli.

Setelah itu sampai sekarang, saya belum menambah koleksi kaset dari kedua penyanyi favorit saya itu. hehehe, ada yang mau ngasih nggak?

Ngomong-ngomong tentang nge-fans-nya saya pada Ruth Sahanaya, saya punya satu pengalaman lucu sehubungan dengan itu. Ceritanya, dulu pas saya kelas 1 SMP, saya bergabung dengan ekskul seni musik SMPN 1 Purwokerto, yang menaungi Spensa Band. Di situ, saya ditunjuk menjadi salah satu vokalisnya.

Singkat cerita, pada salah satu pementasan, saya bersiap membawakan lagu “Kaulah Segalanya”. Saat MC-nya tahu bahwa lagu yang akan saya bawakan itu adalah hits dari Ruth Sahanaya, ia pun memanggil saya untuk naik ke atas panggung dengan cara seperti ini: “Inilah…, Tuntas Sahanaya…!”

Gubrak! Saya hanya bisa melongo, lalu tersenyum kecil mendengar kata-katanya itu.

Wakakak..., emang sejak kapan taschan jadi orang Ambon dan bermarga Sahanaya?


Material, 25/04/2005
04:15 WIB
• • •

April 15, 2005

Pernikahan (3)

Minder Saya dan Visi Pernikahan

Suatu hari, suami saya bertanya, “kamu tahu si A, angkatan 1997?”

“Ya, dek tahu. Kenapa?” saya balik bertanya.

“Dia nikah,” jawabnya.

“Sama siapa?” tanya saya lagi.

“Sama si B, angkatan 2000. Kamu tahu dia?”

“Oh, kalo yang ini dek gak tahu orangnya. Tapi, dek sering dengar namanya. Bukannya dia kerja di tempatmu juga?”

“Iya, dia yang menggantikan posisiku di kantor,” jawabnya sambil terkekeh.

“Oh, begitu,” tanggap saya singkat.

Penjelasan suami saya ternyata masih berlanjut. “Si B itu mapres fakultas, juara 2 mapres univ, dan ketua keputrian di rohis univ. Dia mendapatkan jodoh yang pas dan sepadan.”

Deg!

Saya terdiam sejenak. Memikirkan diri saya sendiri. Lalu, saya berkata pada suami. “Kenapa kamu tidak tak cari saja yang sepadan denganmu?”

“Maksudnya?” tanyanya heran.

“Ya, misal yang satu fakultas denganmu. Biar nyambung kalau diajak ngomong. Enggak kayak aku,” ungkap saya.

0000

Obrolan-obrolan semacam itu, seringkali terjadi diantara kami. Obrolan yang singkat, tapi sanggup membuat hati saya kadang tertohok. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas, saya lalu berpikir ulang tentang kami berdua.

Tak jarang, saya merasa kasihan pada suami saya itu. Ia mendapatkan orang yang biasa-biasa saja, seperti saya. Dengan potensi yang ia punya, seharusnya ia bisa mendapatkan yang lebih. Lebih pintar, lebih cantik, lebih kaya, dan yang pasti, lebih sholihah dibandingkan dengan saya.

Ya, apalah saya ini dibandingkan dia. Sama sekali bukan apa-apa. Mungkin, seperti langit dan bumi. Jauh… sekali bedanya.

Saat saya sedang dilanda resah seperti itu, suami saya biasanya langsung menghibur. Ia berkata, “aku enggak tahu kenapa akhirnya aku milih kamu. Tapi buatku, kamu tuh the one and only. Sungguh!”

Saya tahu dia mencintai saya. Mungkin malah sangat cinta. Ia mengkhawatirkan saya melebihi siapapun. Menjadi teman berbagi yang asyik. Tempat bertanya saat saya butuh jawaban. Menjadi sahabat dalam berbagai suasana. Juga, suami yang setia dan seorang pengkritik yang tahu saya banget!

Terkadang ia marah saat saya mulai “membusukkan” diri saya sendiri. Ia tak segan bertanya, apa yang membuat saya jadi seperti itu. Ia lalu membantu saya berdiri dan mengobarkan kembali semangat saya yang sempat luntur. Selalu mengingatkan saya, bahwa saya pun berharga. Dan karenanya, saya patut dicintai olehnya.

Sesaat saya tersadar. Tapi ketika mendengar suami saya bercerita tentang pasangan lain, saya bisa “drop” lagi. Saya merasa terlempar ke pojok ruang hampa. Membuat saya takut dan kembali mengoreksi diri sendiri, dengan cara yang –kadangkala- kurang fair. Aneh memang, tapi, begitulah adanya.

Ya, teman-teman suami saya, hampir semuanya memiliki pasangan yang –menurut saya- hebat.

Si C, istrinya adalah seorang dokter gigi.
Si D, calon istrinya adalah seorang dokter.
Si E, istrinya adalah seorang ahli Informatika,
Si F, calon istrinya adalah seorang arsitek.
Dan lain-lainnya…

Sedang saya?

Atau…, beberapa wanita hebat pun ada di sekeliling suami saya. Dan seringkali mereka belum menikah. Kadang saya berpikir, salah satu dari merekalah yang seharusnya mendampingi dia, bukan saya. Saya terlalu biasa untuk orang berpotensi sepertinya.

Pernah suatu hari, satu sisi hati saya bertanya, “kalau ia memilih mereka, bagaimana denganmu?”

“Tentu aku akan sedih. Tapi aku bisa mengerti keputusannya. Ia pantas mendapatkan yang setara dengannya,” jawab sisi hati saya yang lain.

Tapi, benarkah saya akan sekuat itu?

0000

Keminderan-keminderan dan rasa tidak percaya diri (PD) yang saya rasakan itu, saya rasa dipengaruhi oleh pola didik ayah saya. Ia orang yang keras dan cenderung kurang menghargai pendapat saya. Saat masih kanak-kanak, sering saya kena marah, hanya karena menanyakan suatu hal yang memang benar-benar belum saya pahami dan ketahui. Padahal, -menurut pemikiran saya sekarang- hal itu seharusnya tak perlu terjadi.

Seorang anak dengan basic pendidikan demokratis, akan belajar sejak awal tentang keberanian berpendapat dan menghargai pemikiran orang lain. Ia belajar mengerti bagaimana ia harus melakukan suatu hal, agar ia paham tentang sesuatu yang belum ia ketahui. Ia pun akan punya self confidence yang tinggi, karena ia merasa berharga dan dihargai. Ia takkan pernah merasa minder, hanya karena hal-hal sepele, seperti yang seringkali saya alami.

Dan memang, visi ini harus ditanamkan sejak awal pernikahan. Menikah bukan hanya untuk menyatukan dua kubu yang berbeda latar belakang dan prinsip, tapi juga merupakan wahana untuk mendidik generasi penerus. Adalah tugas utama setiap orang tua, untuk membuat anak selalu PD dan yakin akan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Jangan biarkan ia tak punya tujuan hidup yang jelas, hanya karena kita –sebagai orang tua- tak penah menghargainya.

Dan akhirnya…

“Jika daku jatuh cinta, biarkanlah kepadamu
ingin daku, engkau yang pertama di hatiku
jika daku jatuh cinta.”

Suamiku, terima kasih untuk selalu membantuku bangkit dan berkembang. Terima kasih untuk setiap tetes kasih yang kau berikan untukku. Memang, tak ada satu pun yang pasti. Tapi engkau telah membantuku beranjak dari ragu. Terima kasih, Cinta. Engkaulah permata. Selamanya…

Material, 13 April 2005
01.15 WIB
• • •

April 11, 2005

Pernikahan (2) - Part 2

Pernikahan Agung: Alia dan Anto (2)

Sabtu, 9 April 2005

Saya baru saja pulang dari “pernikahan kedua” Alia dan Anto. Seperti telah saya ceritakan pada part sebelumnya, Alia dan Anto menikah siri di hadapan orang tua Alia pada Senin malam, 21 Pebruari 2005. Namun, karena pernikahan tersebut belum resmi secara aturan kenegaraan, maka keduanya melakukan ijab-kabul ulang di hadapan petugas KUA tadi pagi, tepatnya pada pukul 09.30 WIB. Bertempat di rumah orang tua Alia, di bilangan Komplek Pondok Duta, Cimanggis – Depok.

Ketika saya datang, upacara ijab-kabul belum dimulai. Untuk mengawali acara pada hari itu, rombongan mempelai pria berjalan beriringan menuju ke depan rumah Alia. Di gerbang masuk, diadakanlah upacara kecil untuk menerima seserahan dari pihak pria. Acara seserahan tersebut, dimaksudkan sebagai simbol penyerahan mempelai pria dari pihak orang tuanya kepada pihak orang tua mempelai wanita. Usai seserahan tersebut, berarti pihak mempelai pria telah siap untuk dinikahkan dengan mempelai wanita.

Ketika acara seserahan berlangsung, saya sengaja berdiri mengamati dari jarak sekitar 10 meter. Saya masih segan untuk mendekat, karena saya kira hanya pihak keluarga saja yang berada di tempat upacara nikah. Ternyata saya salah,karena di bawah tenda, telah disediakan tempat duduk bagi para tamu.

Kemudian, saya pun segera menuju ke bawah tenda dan mendengarkan upacara ijab-kabul dari pengeras suara. Ijab kabulnya sendiri tidak saya saksikan di depan mata, karena dilaksanakan di dalam rumah.

Saat sudah duduk dan persiapan pengucapan ijab-kabul hendak dimulai, saya mulai merasakan ada yang membuncah di dada saya. Ada rasa bahagia karena saya bisa hadir di sini dan menyaksikan Alia menikah. Rasa bahagia bercampur haru terus saya rasakan saat detik-detik acara ijab-kabul dilaksanakan.

Pertama-tama, Alia dan Anto meminta ijin untuk menikah kepada papa Alia. Suasana haru makin menyergap para hadirin. Apalagi saat papa Alia mengucapkan kalimat ijab, sambil menangis tersedu. Tak sadar, kelopak mata saya telah dipenuhi dengan bulir-bulir air. Ya, ternyata saya menangis. Padahal, jika mengingat pernikahan saya, rasa-rasanya tak ada apa-apanya. Saya tidak menangis pada saat ijab-kabul dilaksanakan. Saya sendiri heran kenapa waktu itu saya tak bisa menangis. Tapi, begitulah kenyataannya.

Saya merasakan, inilah salah satu pernikahan agung yang pernah saya hadiri. Betapa tidak, pernikaan tersebut dilaksanakan dalam suasana sedih, karena papa Alia sedang menderita kanker tulang akut yang membuatnya sering “anfal:. Pernikahan tersebut juga “dihiasi” dengan mahar sederhana berupa seperangkat alat shalat, perhiasan emas seberat 8 gram, dan hafalan QS. Ar Rahman: 1 – 30. Subhanallah… Semoga kesederhanaan mahar tersebut akan membawa Alia dan keluarganya menuju kehormatan yang setinggi-tingginya di sisi Allah. Amiin.

Seusai acara ijab-kabul, saya mencicipi salad sayur dan puding yang dihidangkan di beranda depan. Saya sengaja tidak mengambil nasi, karena sebelumnya saya sudah sarapan di rumah. Enak juga dessert yang saya santap itu. Sederhana, namun benar-benar cocok di lidah.

Setelah merasa cukup, saya kemudian menuju ke pelaminan Alia dan Anto di ruang depan. Sebentar mengantri, saya pun mendapat giliran untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Di pelaminan itu, Alia dan anto diapit oleh dua orang pendamping. Saya mengira, mereka berdua adalah paman dan mama Alia.

Sampai pada suami Alia, saya masih sanggup mengucapkan kalimat “Barakallahu” dengan lancar. Tapi begitu bersalaman dan berpelukan dengan Alia, saya kembali menitikkan air mata haru. Saat itu, terjadi percakapan singkat antara saya dan Alia.

“Sendirian ya? Yang lain mana?” tanya Alia.
“Nia…, Alin…, mungkin nanti,” jawab saya. Tenggorokan saya tiba-tiba tercekat.
“Suami kamu mana?” tanyanya lagi.
“Belum balik,” jawab saya lagi. Kali itu saya benar-benar sudah sesenggukan.
“Kamu kenapa?” tanya Alia heran.
“Enggak apa-apa. Aku cuma haru sama pernikahan kamu.”

Alia pun tersenyum. Kemudian ia berkata “itu papaku,” sambil menunjuk papanya yang terbaring lemah di sebuah ranjang pendek, di sebelah kiri pelaminan,

Air mata saya terus berlinangan, sampai saya mengucap kalimat “semoga lekas sembuh” pada papa Alia. Beliau sendiri hanya diam, memandangi saya dengan mata berkaca-kaca.

Merasa tak kuat, saya lalu pamit dan keluar ruang sambil mengusap kedua pipi saya yang basah. Saya tak henti bertasbih, karena masih diberi kesempatan untuk menyaksikan salah satu kebesaran-Nya. Yang menyadarkan saya bahwa apapun bisa terjadi, jika hal itu telah menjadi kehendak-Nya. Kapan pun dan dimana pun itu.

0000

Pernikahanmu sungguh indah, Alia. Semoga pernikahan indah dan penuh doa itu, merupakan awal membahagiakan bagi hidupmu. Di dunia dan juga akhirat. Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baiynakuma fii khair (Semoga Allah memberimu barokah dan barokah Allah meliputi kamu sekalian). Amiin.

Material, 9 April 2005
11:35 WIB

=====
Note for Alia:
Kemaren aku nangis bukan karena suamiku belum balik dari Jerman :D Tapi sungguh, karena keharuanku atas pernikahanmu. Selamat berjuang ya… semoga diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Amiin. Trus, kalo ada salah-salah kata, mohon koreksinya. Ntar bisa diedit kok :D
• • •

April 10, 2005

Pernikahan (2) - Part 1

Pernikahan Agung: Alia dan Anto (1)

Senin, 21 Pebruari 2004

Alia pulang dari kantornya di bilangan Jln. Soedirman, Jakarta pada pukul 20.00 WIB. Kali ini ia diantar oleh Anto, calon suaminya, yang hendak mengantarkan Surat Numpang Nikah.

Tiba di rumahnya pada pukul 21.00 WIB, Alia kaget karena di situ telah berkumpul banyak orang. Ternyata di rumah Alia sedang diadakan pengajian. Acara yang lebih mirip Yasinan dan doa itu, diadakan secara mendadak, karena papa Alia sedang “anfal”. Memang sudah cukup lama, papa alia menderita kanker tulang yang sudah cukup akut.

Waktu itu, seluruh keluarga Alia telah berkumpul dan berdoa sambil tak henti menangis. Alia pun kemudian mendekat ke papanya. Tiba-tiba, sang papa berbisik dan memintanya untuk mau dinikahkan saat itu juga.

Singkat cerita, dilakukanlah persiapan pernikahan yang serba seadanya. Anto yang merasa masih belum begitu siap, akhirnya menelpon ke rumah orang tuanya di Ciputat untuk meminta ijin. Orang tua Anto langsung setuju dan tak masalah pernikahan siri (resmi secara agama) tersebut diadakan tanpa kehadiran mereka berdua.

Masalah mahar, sempat menjadi masalah juga, karena memang tidak ada persiapan sama sekali. Awalnya, Anto hendak berhutang mahar, tapi papa Alia tidak mengijinkan. Akhirnya, ada tetangga Alia yang berbaik hati menjual cincin nikahnya dengan harga sangat murah. Cincin emas seberat 3 gram itu, hanya ia jual Rp 5.000,- saja. Subhanallah… Allahu Akbar!

Pada saat upacara ijab-kabul dilaksanakan, Alia melihat hampir seluruh keluarganya menangis, terutama ibu dan kakaknya. Tangis haru bercampur sedih. Alia sendiri mencoba tegar. Alhamdulillah, karena Anto sebelumnya telah menghapalkan kalimat ijab-kabul, acara pun bisa berjalan dengan lancar.

Malam itu, ketika Alia dan Anto berada dalam satu ruang, keduanya masih saja tak percaya bahwa mereka telah menikah. Mereka hanya terdiam dan merasa takjub dengan apa yang baru saja terjadi. Semua berjalan begitu cepat, begitu singkat, tak direncanakan, tak disangka, dan tak dinyana.
• • •

April 04, 2005

Pernikahan (1)

Cincin Kawin: Antara Saya dan Rein

Sabtu Siang tanggal 2 April 2005, sepulang mengaji di bilangan Jln. Bangka Raya, saya bersama seorang kawan –sebut saja namanya Rein– pergi ke Pasar Melawai, di daerah Blok M. Sebelumnya, kami tidak membuat janji untuk pergi bersama ke sana. Saya sendiri hanya menunggu waktu, karena pada sore harinya ada kegiatan lagi di LIA Pramuka. Saya tidak tahu persis, apa yang sebetulnya hendak dilakukan Rein disana. Ia cuma bilang, ada sesuatu yang harus ia beli. Sepanjang perjalanan dalam Metromini 77 itu, saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

Kami pun kemudian tiba di Melawai. Sebenarnya ini bukan kepergian pertama saya ke daerah perbelanjaan Blok M. Tapi, khusus untuk Melawai, saya memang belum pernah mengunjunginya. Yang pernah saya kunjungi hanya Blok M Plaza dan Pasaraya Grande. Buat saya, acara jalan bareng Rein itu, hitung-hitung untuk menambah pengalaman.

Ternyata, saya diajak Rein ke sebuah toko emas, “Cendana” namanya. Pemilik toko dan beberapa pelayan di situ tampaknya bersuku Padang. Beberapa kali Rein –yang kebetulan berasal dari Sumatera Barat— bercakap dengan mereka dalam bahasa Padang –yang tentu saja tidak saya mengerti artinya. Di situ, ternyata Rein hendak mengambil pesanan berupa sepasang cincin kawin, yang sudah dipesannya dua minggu sebelumnya. Ah ya, Rein memang insya Allah hendak menikah sebulan lagi. Tepatnya pada 8 Mei 2005.

Kedua cincin pesanan Rein itu sama persis. Hanya bahan untuk masing-masing cincin itu saja yang berbeda. Cincin yang hendak dikenakan Rein, terbuat dari emas putih. Sedangkan cincin yang akan dikenakan oleh calon suaminya terbuat dari silver berkualitas tinggi. Yang menyamakan keduanya adalah model, grafir dan hiasan tambahan berupa tiga mata berlian di masing-masing cincin.

Pikiran saya lalu melayang ke masa-masa menjelang pernikahan dahulu. Saya dengan gampang mengingat, bahwa saya tak sedetail Rein dalam menyiapkan pernikahan. Setidaknya untuk urusan cincin kawin, seperti yang sedang dilakukan Rein saat itu.

Rein dan pasangannya benar-benar ingin membuat cincin kawin menjadi sesuatu yang penuh kenangan. Mereka benar-benar tak mau “asal” untuk urusan yang satu itu. Susah payah mereka mencari contoh model cincin kawin yang elegan dan pantas untuk mereka kenakan. Saya sangat mengagumi keseriusan mereka itu.

Di balik itu, ada yang ingin saya tertawakan dari cincin kawin milik saya dan suami. Kalau Rein dan calon suaminya mengkondisikan cincin kawin sebagai sebentuk barang yang sungguh berharga dan dipersiapkan secara special, saya dan suami justru sebaliknya. Baru-baru ini, saya baru tersadar akan kecuekan kami dahulu. Jujur saja, kami tak punya banyak waktu untuk itu. Bukan karena kami terlalu sibuk, tetapi lebih kepada menuruti perasaan bahwa itu bukanlah sesuatu yang harus kami prioritaskan. Yang kami pikirkan saat itu, hanyalah agar pernikahan kami bisa berjalan lancar, dan kami pun bisa resmi menjadi pasangan suami istri. Urusan cincin kawin, “ah itu gampang”. Sempat terpikir oleh saya, bahwa mungkin hanya saya saja yang akan memakai cincin. Untuk suami, terserah dia saja. Mau pakai terserah, tidak ya sudahlah.

Ternyata tak segampang itu urusannya. Saya dan calon suami –pada waktu itu- yang menginginkan pernikahan kami menjadi sesuatu yang “mudah”, harus sedikit “tersandung” oleh waktu yang mendesak dan permintaan dari orang tua. Begitu kedua orang tua kami bertemu dan membicarakan permintaan kami berdua untuk menikah, kedua calon mertua saya berencana untuk mengadakan acara lamaran seminggu berikutnya. Waktu yang menurut kami sungguh cepat dan tak terduga sebelumnya.

Saya yang pada saat itu, datang ke Malang hanya untuk mengikuti wisuda S1, harus “terganggu” dengan permintaan dari calon mertua agar kami memesan cincin, yang akan dipergunakan saat lamaran. Saya yang tidak menduga akan adanya permintaan yang begitu mendadak tersebut, merasa tak berdaya untuk menolak. Saya dan calon suami harus menuruti permintaan itu, karena beliau berdua merasa tak enak jika harus menghadap orang tua saya, tanpa membwa “tanda” apapun.

Karena pada Minggu sore, saya dan calon suami harus kembali lagi ke Jakarta, Minggu pagi itu kami pun pergi ke Pasar Besar Malang. Harapan kami, nantinya bisa menemukan toko emas yang mampu memenuhi pesanan cincin kawin, dalam jangka waktu hanya 4 hari saja.

Kenapa hanya 4 hari?

Ya, karena pada hari Jum’atnya, kedua calon mertua saya itu harus sudah berangkat ke kampung halaman saya di Jawa Tengah, guna melakukan lamaran.

Setelah beberapa toko emas kami jelajahi, ternyata tidak ada satu pun yang bisa memenuhi pesanan dalam waktu secepat itu. Apalagi, pesanan kami harus berbeda bahan. Cincin saya dengan mas putih, sedangkan untuk calon suami harus terbuat dari perak. Alhamdulillah, kami bertemu seseorang yang menyarankan kami untuk memesan perhiasan perhiasan perak, di lantai dasar Pasar Besar Malang itu. Dengan tergesa, kami pun segera menuju kesana.

Tidak seperti toko emas yang menyediakan berbagai pilihan model perhiasan, tempat pengrajin perak itu hanya sebuah kios kecil. Dia menyanggupi model apapun yang diinginkan oleh pemesan, namun sayang tak banyak contoh yang bisa kami jadikan ide. Akhirnya kami pun memesan cincin dengan model standar. Hanya berbentuk lingkaran yang pas di jari, tanpa dihiasi bentuk atau grafir apapun. Sebagai pembeda, cincin saya diberi hiasan dengan satu batu permata berwarna putih bening. Saya sendiri, sampai sekarang tidak yakin bahwa itu batu permata. Saya justru meyakini bahwa batu putih bening itu hanyalah kaca kristal biasa. Pengrajin itu menjanjikan ia hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan pesanan kami itu. Jadi paling telat hari Kamis sore, pesanan itu sudah diantar ke alamat calon mertua saya.

Ups, saya hampir lupa. Untuk sepasang cincin itu, kami hanya membayar tak lebih dari Rp 50.000,-. Bandingkan dengan pesanan Rein yang ternyata berharga Rp 2.600.000,- itu. Cukup jauh bukan bedanya? Hehehe…

ooo

Setelah menikah, saya dan suami jadi sedikit berbeda. Kami yang tak terbiasa menggunakan hiasan apapun, kecuali jam tangan (itu pun lebih karena kebutuhan), harus menggunakan cincin kawin berbahan perak itu. Memakainya pun “asal” saja. Dalam artian, kami tidak tahu di tangan mana cincin kawin itu harusnya berada. Saya sendiri memakainya di jari tengah tangan kiri saya.

Hah? Jari tengah?

Iya, jari tengah. Karena ternyata, lingkar cincin saya melebar dan kebesaran untuk saya pakai di jari manis. Jadi daripada lepas, akhirnya saya pakai saja di jari tengah. So simple reason kan? Hehehe...

ooo

Bicara soal cincin yang lepas, suatu malam sepulang kerja, wajah suami saya agak berbeda dari biasanya.

Saya kemudian bertanya, “Ada yang pengen diomongin ya?”

“Iya, tapi kamu jangan marah ya?” jawab suami saya.

“Ya sudah ngomong saja,” saya makin penasaran.

“Itu…, cincinku jatuh pas wudhu di kampus tadi siang,” ia berkata dengan nada sedikit lemah. Ia tampaknya takut kalau saya jadi marah karenanya.

“Oh, kirain mau ngomong apa. Emang kenapa harus marah?” saya bertanya lagi.

“Ya kan itu ada kenangannya.”

“Enggak apa-apa kok. Kalau mau, nanti kita bisa beli lagi,” jawab saya sambil tersenyum.

Suami saya terlihat lega demi melihat ketenangan saya. Pada waktu itu tidak ada rasa marah dalam hati saya,. Saya pikir, kalo soal kenangan, itu kan soal persepsi saja. Apakah tanpa cincin itu, lalu kami jadi tak punya kenangan lagi tentang pernikahan kami? Tentu tidak bukan? Dan lagi, masih ada cincin saya. Yang saya harap, bisa lebih saya jaga.

Suami saya, sampai saat ini tetap tak memakai cincin kawin. Dan saya pun tak khawatir karenanya. Bukan karena ia malas memakai, tapi karena kami malas untuk membelinya lagi... :D Saya percaya padanya, tanpa harus ia memakai cincin, sebagai penanda bahwa dia telah menikah.

Berawal dari kenangan soal cincin kawin suami saya yang hilang itu, saya lalu berpesan pada Rein.

“Nanti suamimu suruh hati-hati ya, Rein. Jangan sampai cincin itu terlepas saat berwudhu.”

“Memang kenapa?” tanya Rein. Ia masih tak mengerti akan maksud kata-kata saya.

“Ya, sayang kalo sampai hilang. Biar pun itu bahannya silver seperti punyaku, tapi kan punya suamimu itu ada berliannya. Bisa rugi kalian,” jawab saya sembari tertawa.

Rein pun tersenyum.

Begitu jauh beda harga antara cincin kawin saya dengan cincin kawin Rein. Tapi saya tak pernah menyesal. Saya tahu, kebahagiaan pernikahan saya tak cuma diukur dari seberapa mahal harga cincin kawin saya itu. Dan seperti saya bilang tadi, saya mempercayai suami saya, walau di jarinya tak ada cincin kawin sebagai penanda.

Material, 03/04/2005
21:50 WIB
• • •