July 30, 2005

belum ada postingan baru :)

sampai hari ini, belum ada postingan baru di blog ini.

maaf ya teman-teman. sekarang ini, saya jarang bisa akses internet seperti biasanya. sedang ada kegiatan yang saya lakukan di luar kantor, yang tentu saja menyusahkan karena saya tidak mendapat akses internet di luar sana. di samping itu, komputer saya sedang ngadat pula :( jadi naskah yang saya siapkan lebih banyak saya tulis dengan tangan terlebih dahulu, untuk menghindarkan hilangnya ide-ide yang melintas di kepala ... (ciee, sok penulis banget sih :D)

akibatnya, naskah-naskah curhat tersebut, tidak bisa secepatnya dipublish di sini. mungkin itung-itung belajar untuk nanti di jerman, karena di sana saya juga mungkin tidak bisa leluasa mengakses internet. lho kok? sebab kalau mau langganan internet tentu saja akan sangat mahal biayanya. sebab saya dan suami akan tinggal di rumah sewa (private wohnung), bukan di asrama mahasiswa (student wohnheim). tapi tak apalah, yang penting kami berdua bisa berkumpul kembali. toh untuk cek email, saya bisa nitip ke suami :) wah, jadi gak punya privacy lagi dong :D

tadi saya juga sempat maen ke tempat geekgirl dan oki. Ternyata blog mereka berdua pun, sudah beberapa hari tak di update. kebetulan mereka berdua sama-sama baru lulus program master. kalau geekgirl, saya tak tahu sedang sibuk apa dia sekarang. sementara oki, yang saya tahu dia baru saja balik ke indonesia. congratz ya buat geekgirl dan oki. wish me luck, berharap bisa seperti mereka dan suami saya yang bisa mendapat kesempatan kuliah s2. amiin.

oya, sekarang saya sedang mempersiapkan dokumen-dokumen untuk aplikasi visa. doakan semoga semua lancar dan dimudahkan ya. amiin. sudah kangen banget ama suami tercinta :D

ai.net
06:04 wib
• • •

July 16, 2005

s.b.u by cozy street corner

tadi barusan saya nyoba kirim file mp3 ke suami. judul lagunya s.b.u (saya ingin bercerita, bulan dan bintang, ulat bulu). iya itu lagu medley (bener gak nulisnya? :D) dari cozy street corner. jadi 3 lagu dijadiin satu. saya dapet lagu itu pas semiloka dongeng di psikologi UI pada sabtu, 9 juli 2005 yang lalu.

lagunya asyik deh... lucu dan menggelikan. apalagi yang ulat bulu... anak-anak banget gitu deh :D tapi sebetulnya saya paling suka yang bulan dan bintang. soalnya musiknya tuh bikin kita bersemangat... kemarin sempat saya beli kasetnya pas acara itu. tapi saya berikan pada ami yang kebetulan tanggal 9 mei lalu juga ultah (semoga umurmu berkah ya, dek. amiin).

maaf temen-temen, belum bisa cerita banyak... kalo mau syair yang bulan dan bintang, baca aja nih:

senyumlah oh senyum oh bulan dan bintang,
sadarlah akan indah pesonamu
segala malam oh bersama cerlang,
cahyamu datangkan damai padaku
terangmu oh bulan dan bintang, temani malam dalam gelapnya
sinarmu oh bulan dan bintang, jadikan malam pun mempesona

ai.net
9:32 wib
• • •

July 15, 2005

Gelar di Undangan Pernikahan

Sebelum saya menikah (bahkan sampai sekarang - red), seringkali saya lihat gelar kesarjanaan kedua calon mempelai dicantumkan di undangan pernikahan mereka. Dan karena kebiasaan itu sudah saya ketahui sejak masih kanak-kanak, saya bahkan dulu pernah menginginkan saat besar nanti saya pun ingin menjadi sarjana dulu sebelum menikah. Tujuannya agar nantinya bisa mencantumkan gelar kesarjanaan saya di undangan nikah. Ceilee…padahal waktu itu juga belum tahu siapa jodoh saya nantinya. Saya cuma berpikir bahwa sepertinya akan terlihat keren kalau ada di belakang nama saya ada gelar kesarjanaan. Dan yang lebih asyik lagi, undangan nikah yang keren itu adalah hasil kreasi saya sendiri (Hihihi, padahal belum tahu nantinya undangannya bakalan seperti apa). It’s totally a child's mind…:D

Tapi waktu pun akhirnya membuat saya berubah pikiran. Apalagi sejak saya kuliah dan mulai bergaul dengan kalangan yang lebih luas. Saya tidak lagi memandang pernikahan sebagai ajang untuk pamer atau untuk bangga-banggaan gelar. Menikah buat saya merupakan bentuk tanggung jawab kita sebagai seorang manusia dewasa. Menikah juga sebuah ibadah kalau kita memang benar-benar ikhlas menjalaninya.

Hasil dari kesemuanya itu pun berimbas pada keinginan saya untuk tidak mencantumkan gelar kesarjanaan di undangan pernikahan kami. Untunglah saya dan (calon) suami memiliki pandangan yang sama soal pencantuman gelar itu. Kalau tidak, wah bisa berabe tuh. Bakal ada debat panjang, sebelum pernikahan kami terjadi.

Undangan nikah kami didesain sendiri oleh (calon) suami saya. Pada saat desain memang tidak ada masalah. Tapi ketika hampir tiba pada proses pencetakan, kami terbentur pada perbedaan pendapat antara saya dan orang tua saya. Orang tua saya ingin di undangan nikah itu dicantumkan gelar kami berdua. Bapak saya bilang, adalah sebuah kebanggaan kalau orang-orang yang menerima undangan kami itu bisa tahu bahwa kami berdua sudah lulus kuliah saat menikah itu. Dan kebanggaan juga karena sebagai orang tua, beliau telah berhasil menyekolahkan saya hingga jenjang perguruan tinggi.

Selanjutnya saya jelaskan pada beliau bahwa menikah itu tak ada hubungannya dengan gelar. Apalah arti sebuah gelar, toh yang penting kami sudah bisa mandiri. Tidak penting apakah kami berdua masih kuliah atau tidak.

Saya juga menjelaskan pada beliau bahwa di lingkungan kerja (calon) suami saya (yang kebetulan seorang akademisi), banyak orang dengan gelar yang lebih hebat. Kami berdua baru lulus S1, sementara rekan-rekan kerja suami saya sudah banyak yang lulus S2, S3, bahkan ada pula yang sudah Profesor. Dengan begitu, akan terlihat lebih pas bila di undangan pernikahan nanti tidak usah dicantumkan gelar kesarjanaan kami tersebut. Alhamdulillah, akhirnya kedua orang tua mengerti akan hal itu.

Tapi, saat ngundhuh mantu di Malang, Jawa Timur, kami berdua “kecolongan”. Acara ngundhuh mantu diadakan seminggu setelah pernikahan kami di Banjarnegara, Jawa Tengah. Karena acara itu memang diadakan dengan persiapan yang cukup singkat, saya tidak sempat menanyakan bagaimana undangan untuk acara ngundhuh mantu itu. saya dan suami menyerahkan seluruh urusan pada keputusan mertua saya. Kami berdua pun baru tiba di malang pada 2 hari menjelang acara itu.

And what happened next…? Di undangan acara itu tercantum nama kami berdua dengan gelar kami masing-masing.
AAK, S.Kom
dan
TMH, SE, Ak

Wah…, benar-benar tak sangka. Malu sebenarnya waktu itu, karena saya merasa bukan apa-apa dengan gelar saya. Dan itulah salah satu alasan kenapa saya tak mau mencantumkan gelar saya. Hiks..hiks…Untungnya acara hari itu lancar-lancar saja. Walau sederhana dan hanya diadakan di beranda rumah mertua yang kebetulan berhalaman luas -karena depan rumah adalah lapangan-, tapi acara tetap meriah. :D Beberapa teman dan adik tingkat di Unibraw juga menyempatkan diri datang di tengah kesibukan kuliah mereka. (Nuhun atas kepedulian kalian semua :)).

Beberapa bulan setelah nikah, saya dan suami sempat mudik ke rumah orang tua saya. Ibu saya pun bercerita, bahwa gara-gara gelar saya tak dicantumkan di undangan nikah, seorang teman beliau mengira bahwa saya masih belum lulus kuliah.

“Putri ibu sekarang masih di Malang kan?” tanya temannya itu.

“Lho, ya di Jakarta. Memang kerjanya juga di sana kok, “ jawab ibu saya.

“Oh sudah lulus tho? Saya pikir masih kuliah. Soalnya di undangan nikah itu kan nggak ada gelar mereka berdua.”

Ibu saya tersenyum simpul sambil menjawab, “oh pas nikah itu udah lulus dan juga udah kerja di Jakarta kok. Dia lulus 6 bulan sebelum menikah.”

Wah…wah, nasib gak mau mencantumkan gelar tuh….:D

Nah, kejadian itu benar-benar pelajaran berharga buat saya. Sampai sekarang, saya tetap lebih suka jika di undangan pernikahan tidak dicantumkan gelar kesarjanaan kedua mempelai. Tapi saya tetap menghargai yang ingin mencantumkan kok. Saya berhusnudzon saja, bahwa mungkin mereka mencamtumkan gelar itu demi kebahagiaan kedua orang tua. Dan lagi…, biar orang-orang tahu kalau yang jadi pengantin itu udah pada lulus kuliah, udah mandiri dan gak jadi beban orang tua lagi :D Jadi mau dicantumkan atau tidaknya gelar anda, semua terserah anda.

material, 11/05/2005
8:18 wib
• • •

July 04, 2005

Setelah Beberapa Lama

Setelah menanti selama beberapa waktu, pada sabtu tengah malam (02/07/2005) saya mendapat kabar dari suami bahwa ia berhasil mendapatkan perpanjangan beasiswa untuk studinya. Alhamdulillah, penantian dan doa saya selama ini ternyata tak sia-sia. Langsung terpikir dalam benak saya, bahwa (insya Allah) beberapa bulan lagi saya akan bisa menemaninya di sana. Ah, betapa senangnya saya bisa kembali berkumpul dengan suami tercinta. Amiin..Amiin.

Ngomong-ngomong soal menemani, itu berarti saya akan mengubah aktivitas yang saya jalani saat ini. Ya, saya tak akan lagi disibukkan dengan pekerjaan kantor dan beberapa aktivitas lain bersama teman-teman kantor ataupun organisasi. Waktu saya akan lebih banyak tercurah untuk mengurus suami dan juga rumah kami nanti (:D). Wow, bagaimana ya rasanya jadi ibu rumah tangga yang seharian ada di rumah, sementara suami sibuk belajar di kampus?

Dulu saat awal menikah, saya sempat sedikit diejek oleh salah satu temen di kantor. Dia cewek dan kebetulan belum menikah di usianya yang sudah 30 tahun. Ia mengejek gara-gara saya mengaku bahwa sayalah yang menyucikan dan menyetrika baju suami. Juga tentu (kadang-kadang) memasak untuknya, terutama di hari-hari libur. Apalagi saya masih mencuci secara manual alias gak pake mesin cuci. Jadi menurut pendapat teman saya itu, saya ini lebih mirip pembantu daripada istri :D

Saya cuma tertawa mendengar omongannya itu. Saya sendiri tak pernah menganggap diri saya menjadi “rendah”, hanya karena saya melayani suami untuk menyiapkan keperluan sehari-harinya. Saya yakin di setiap gerak langkah yang saya tujukan untuk melayani suami, tentu akan berbuah berkah dan pahala. Dan lagi, saya sendiri tak tega kalau suami saya yang harus melakukan itu semua, meski sebenarnya ia bisa :D

Pada suatu saat, saya menggoda suami saya dengan berkata, “mamas bajunya dicuci dan diseterika sendiri dong.”

“Ah..., nanti gak bersih. Udah gitu ntar hasil setrikaanku jg gak rapi,” jawabnya sambil terus asyik maen game di komputer.

“Sekali-kali gak papa kan?” ungkap saya sambil tersenyum.

Seketika dia hentikan aktivitas nge-gamenya untuk beberapa saat. Selanjutnya ia berkata sambil tersenyum, “gini aja, mamas minta tolong adek untuk nyuci dan nyetrika ya. Ntar kalo adek capek, mamas pijetin deh.he...he..he.”

Wah, saya benar-benar tak bisa menolak permintaannya. Saat itu terlihat permintaan yang disampaikannya begitu tulus, walau diungkapkan dengan nada sedikit manja. Jadi ya akhirnya saya yang mencucikan dan menyetrika lagi baju-bajunya. Eh, tapi bukan karena terpaksa lho. Saya mencoba menganggap itu semua sebagai ibadah kok.

Hmm, saya sadar betul bahwa saya belum menjadi istri yang baik untuknya. Saya ini moody dan seringkali keras kepala. Saya bukan seorang bidadari yang cantik dan selalu bicara lemah-lembut. Saya hanya berusaha sebisa saya untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik, sambil tetap menjadi diri sendiri. Kadang-kadang saya pun berdebat dengan suami tentang suatu hal. Tapi kalau saya memang salah, saya akan dengan sportif minta maaf dan mencoba tidak mengulangi kesalahan itu. Begitu pun sebaliknya. Dan alhamdulillah, kami tak pernah berselisih lebih dari sehari semalam. Setidaknya sampai saat ini.

Saya merasa bahwa suami saya adalah lelaki yang dipilihkan Allah untuk saya. Ia begitu mengerti saya, latar belakang keluarga saya dan juga cita-cita saya. Dan tambah bersyukur karena ia tak pernah keberatan dengan itu semua (Maaf ya, dek masih suka bandel dan seringkali sensitif. Hiks...hiks).

Setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa ia takkan pernah terganti. Terima kasih cinta, atas semua yang pernah, sedang, dan akan terjadi diantara kita berdua.

Material, 4 juli 2005
22.10 wib
• • •