February 08, 2005

Lail, Dhuha & Senin – Kamis

(kenangan saat ngantri di stasiun juanda. menjelang lebaran di bulan november 2004)

Saya bertemu jodoh saya saat usia saya menginjak kepala 3. Usia yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, apalagi untuk ukuran tahun 70-an, pada waktu itu. Tanpa proses yang berbelit-belit, akhirnya kami pun menikah. Saat menikah umur saya 30 tahun, sedangkan suami saya berumur 32 tahun.

Mengingat usia kami yang sudah sangat matang, kami tidak mau menunda untuk memiliki momongan. Kami ingin rumah kami segera ditingkahi dengan canda tawa dan tangis bayi, seperti halnya pasangan lain yang sudah menikah.

Tapi ternyata, setelah satu tahun menikah, momongan yang kami tunggu tak juga datang. Saya mulai gelisah. Jangan-jangan ada yang tidak beres dengan diri saya. Ketika saya coba memeriksakan diri, dokter menyatakan tidak ada kelainan dalam kandungan saya. Semua normal-normal saja. Sesaat saya bisa merasa lega.

Semakin lama menunggu tanpa adanya hasil yang saya harap-harapkan, tidak membuat saya patah semangat. Saya justru merasa, harus ada ikhtiar agar impian saya tersebut bisa terwujud. Saya lalu sadar bahwa saya harus lebih banyak berdoa. Saya yakin kalo saya berdoa dan meminta dengan tulus dan sungguh-sungguh, Allah pasti memberikan amanah-Nya untuk saya.
Lalu saya berusaha untuk rutin melaksanakan shalat lail, shalat dhuha, juga shalat lail. Waktu itu saya tidak tahu kapan doa saya akan diijabah. Saya cuma tahu bahwa saya harus terus berdoa dan berusaha. Saya yakin, Allah itu tidak pernah tidur. Allah pasti melihat kesungguhan dan usaha saya. Kadang memang ada saat dimana saya putus asa dan merasa gagal, tapi itu tidak lama. Keyakinan pada Allah-lah yang membuat saya akhirnya bangkit, bangkit untuk kembali menjalani aktivitas doa saya.

Dan benar, apa yang saya dan suami harapkan, akhirnya terkabul juga. Ya, di tahun kelima pernikahan, saya akhirnya hamil. Keyakinan saya pada-Nya makin memuncak. Saya melahirkan putra pertama sekaligus terakhir bernama Yusuf Nugroho.
Tahun demi tahun, Yusuf tumbuh normal seperti halnya anak-anak lain. Kadang-kadang terpikir juga untuk memberikan dia seorang adik, tapi sepertinya Allah hanya memberikan amanah berupa Yusuf saja. Mungkin Allah tahu bahwa fisik saya dan suami sudah makin melemah, seiring usia kami yang terus bertambah lanjut.

Walau harapan saya untuk memiliki anak sudah dikabulkan, saya tidak terus berhenti shalat lail, shalat dhuha dan puasa senin-kamis. Saya justru merasa harus terus melakukan itu semua, karena tahu bahwa saya butuh bantuan Allah dalam mengurus putra tunggal saya itu. Saya meminta Allah untuk menjadikan Yusuf sebagai anak yang pandai dan sholeh. Saya tidak meminta sesuatu yang “lebih”. Saya cuma meminta, dengan kepandaian dan kesholehan yang dimiliki oleh anak saya, saya berharap itu bisa membuatnya eksis di masayarakat. Dan ternyata, itu membias ke dalam diri Yusuf.

Yusuf kecil adalah seorang anak cerdas. Ia tampak menonjol diantara teman-temannya. Walau seorang anak tunggal, Yusuf bukan tipe anak yang manja. Ia bisa mandiri dan mengurus apa yang bisa ia lakukan sendiri. Tidak ada yang terlalu istimewa tapi tidak juga bisa dianggap terlalu sederhana.

Dan tanpa terasa, Yusuf kecil kami kini telah menjadi seorang sarjana teknik dari sebuah universitas negeri terkemuka. Air mata kami tak bisa dibendung saat menyaksikan detik-detik ia diwisuda. Kami merasa saat itu begitu haru dan bersyukur. Alahmdulillah, di usia kami yang sudah cukup lanjut ini, kami masih diijinkan untuk melihat putra kami menjadi seorang sarjana. Saat tulisan ini dibuat, Yusuf sedang terikat kontrak dengan salah satu perusahaan minyak dan gas, dan ditugaskan ke sebuah proyek di daerah Cirebon. Saya hanya bisa bertemu dengannya hanya pada akhir pekan saja, yakni sabtu malam sampai dengan minggu sore. Setelah itu, ia harus kembali lagi ke daerah dan melaksanakan tugas kantornya.

Sebetulnya bukan yang pertama kali ini Yusuf kami kost. Saat mulai kuliah, Yusuf memutuskan untuk kost karena jarak tempuh dari rumah kami di Ciledug ke kampusnya di Depok cukup jauh dan memakan waktu. Juga ketika akhirnya dia bekerja di satu perusahaan konstruksi di daerah Kalibata, ia kembali kost karena merasa banyak membuang waktu di jalan, jika ia harus tiap hari bolak-balik Ciledug – Kalibata. Jadi inilah term ketiga dimana kami harus berjauhan dengan Yusuf. Kadang-kadang ada sepi mendera saya dan suami. Inginnya terus dekat dengan buah hati kami itu. Tapi kami sadar, tidak ada yang bisa kami paksakan untuk Yusuf. Kami tahu bahwa Yusuf juga punya kehidupan dan cita-cita-nya sendiri. Apalagi kami sadar, ia masih sangat muda, 24 tahun. Tentu masih banyak rencana yang ingin ia lakukan di kehidupannya.
Tak heran bila sabtu malam adalah waktu yang kami bertiga tunggu-tunggu. Ya, di malam minggu itulah Yusuf pulang ke rumah. Ia biasa sampai rumah jam 22.00 WIB. Walo saya tahu dia capek karena sudah seharian kerja dan perjalannya di kereta, ia tetap menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan saya dan suami. Ya, kami bertiga seperti tiga teman akrab yang lama tidak bertemu. Kami bercerita tentang apa saja. Tentang hal-hal yang terjadi di rumah saat ia tidak di rumah, atau sebaliknya, ia bercerita juga tentang pekerjaan dan kawan-kawannya. Saya sangat menghargai pengorbanan Yusuf untuk menjenguk kami, orang tuanya, walau hanya dalam hitungan jam saja. Dan yang mengharukan, ia sering berkata: “Saat saya mulai tumbuh dewasa, bapak dan ibu sudah lanjut usia, jadi wajar kalau saya begitu ingin terus mendampingi ibu dan bapak di waktu-waktu luang saya.” Padahal, jika mau ia bisa saja menghabiskan akhir pekannya itu dengan teman-temannya sebayanya. Tapi ia lebih sering memilih kami.

Oya, sampai sekarang saya masih terus shalat lail, shalat dhuha dan puasa senin-kamis. Saya seperti merasa sedikit “aneh” jika sesekali harus meninggalkannya. Saya tahu, ketiga itulah yang telah membuat hidup kami bertiga bermakna. Faktor itu pulalah salah satu penyebab Yusuf bisa tumbuh cerdas, sholeh dan berbakti pada kami. Sebagai ibunya, saya merasa bersyukur bisa melahirkan dan mendidiknya di jalan Allah.

Diceritakan oleh Ibu Lukito kepada Taschan
• • •