June 29, 2005

(hampir) setahun berpisah

hari minggu, 1 Agustus 2004, adalah hari keberangkatan suami saya ke jerman. berat rasanya, mengingat selama 11 bulan kami telah bersama, membangun dan mengarungi sebuah hidup baru, berumah tangga.

hampir setahun berpisah jarak, membuat hidup kami begitu berwarna, ada suka, sedih, rindu, cinta, bahkan kadang kesal dan prasangka.

dan entah kenapa, saya jadi lebih sensitif hari-hari belakangan ini. kala suami saya berkata tentang sesuatu yang menurutnya biasa saja, seringkali saya menjadi tersinggung. lalu saya menangis dan bilang padanya bahwa saya ingin sendiri dulu (padahal tanpa diminta pun, saya toh sedang ditinggalkannya –dalam artian fisik).

kalau sudah begitu, suami saya lalu minta maaf. meski sebenarnya dia tak selalu bersalah. he just said what he thought.

untunglah, saat mudik kemarin, saya sempat membawa dua seri st. clare karangan enid blyton. Buku-buku itu sempat menjadi bacaan saya di awal remaja dulu. dan ketika sekarang saya membaca untuk kedua kalinya, saya tetap jatuh cinta pada isi buku itu. di situ saya temukan salah satu kalimat yang berkesan, yakni: “kita boleh merasa sebal atau benci pada seseorang, tapi kita tetap harus menolongnya, saat dia membutuhkan.”

hei…itu yang terjadi pada saya saat ini. saat-saat dimana saya kesal pada suami, tapi di saat yang sama pula saya tetap ingin menolongnya, bila dia membutuhkan saya. Karena saya sadar, ia-lah sahabat terbaik saya dalam beberapa tahun terakhir. dialah tempat saya menumpahkan segala suka, cemas, tawa dan juga duka yang saya rasa. sehingga ketika saya merasa kesal padanya, saya jadi bingung pada siapa harus berbagi :)

waktu yang hampir setahun tersebut benar-benar telah mengubah sebagian dari pilihan hidup yang ingin saya jalani. saya menemukan “dunia lain” yang lebih mengasyikkan dari akuntansi. dan untuk yang satu ini, sungguh saya bersyukur bahwa saya ditakdirkan jauh dari suami untuk beberapa saat.

kini saya tersadar bahwa tak ada alasan untuk tidak mencintainya. mungkin benar bahwa saya terlalu sering keras kepala. tapi yah…that’s me. toh ada sisi lain dari diri saya yang membuat saya tetap tegar, walau dihadang berbagai cobaan berat. dan diantara ketegaran itu, sangat mungkin ada andil suami saya. kesemuanya itu membuat saya yakin bahwa saya berharga. dan saya ingin terus berkembang karenanya.

(hampir) setahun kami berpisah. semoga nasib kami berdua tak seperti kisah di lagu ‘setahun kemarin'-nya kahitna…amiin.

material, 28 juni 2005
23.30 WIB
• • •

June 22, 2005

blogging or multiplying :D

sekarang ini, untuk menjadi penulis bukanlah sesuatu yang sulit. tiap hari, bahkan tiap jam, kalo kita mau tulisan kita bisa dipublish tanpa harus melalui seorang editor. ya, kita sendiri yang jadi editor buat diri kita sendiri.

jaman internet seperti ini, udah gak jamannya kita ngeluh tulisan kita selalu ditolak oleh editor atau pun penerbit. toh, kalau misal tulisan kita sampai ditolak oleh para editor dan penerbit, kita bisa saja kok langsung publish tulisan kita itu di blog pribadi.

berkenaan dengan blog, saya mengenal beberapa site untuk ngeblog or blogging, yakni blogspot (seperti yang saya pakai sekarang), blogdrive, dan juga blog di friendster (eh yang ini nyebutnya apa yah?).

beberapa teman, sekarang malah lebih suka pake multiply. dalam beberapa hal multiply memang punya keunggulan dibandingkan blog-blog lainnya, terutama untuk upload foto dan links of our contacts. jadi kalo pake multiply ini, ceritanya kita bisa cari temen sebanyak-banyaknya seperti halnya yang bisa kita lakukan di friendster. saking asyiknya ngeblog di multiply, temen saya Jonru sampai ngompor-ngomporin temen-temen di milis FLP untuk rame-rame pindah ke multiply :D

tapi gak tahu kenapa, saya belum berkeinginan untuk ngeblog di multiply. mungkin karena blog yang saya pakai ini juga hasil “perjuangan” kali ya (abis pas nambah html-nya tuh harus belajar sana-sini. maklum, bukan orang it sih :)). jadi akhirnya saya males untuk pindah-pindah alamat blog. sayang juga kalo blog saya ini harus ditinggalin demi si multiply itu :D

bukannya saya gak punya account di multiply. saya juga sign up di situ kok. cuma account yang di multiply itu, sengaja saya pakai hanya untuk kasih komen pada blog temen-temen yang emang pake multiply aja. abis multiply belum seasyik blogspot yang ngijinin anonymous untuk kasih komen pada artikel-artikel yang diposting :( jadi ya mau gak mau saya harus sign up kalo pengen kasih komen. yah, seperti blogspot jaman dululah :D

rencananya sih, nanti kalau saya udah mulai aktif foto-foto or foto koleksi saya udah banyak yang asyik, saya bakalan upload di multiply aja. jadi entar account saya di multiply itu bakalan jadi semacam galeri foto. walaupun kadang-kadang saya agak menghindari posting foto diri sih, apalagi di blog. ups, saya gak nyalahin temen-temen yang pada pake foto diri di blognya lho. mungkin itu cuma perasaan saya aja. sapa tahu nanti-nanti saya pasang foto mesra saya dan suami :D (yang ini mah udah bolak-balik diminta ama suami, cuma sayanya belum mau. abis kayaknya itu bukan saya banget :D)

ya udah, mo pada blogging or multiplying nih? yah, yang penting mah nulis dan nulis terus aja. nulis itu salah satu yang bisa ngilangin stress lho. jadi keep writing ya!

pp plaza lt. 3
17.25 wib
• • •

June 13, 2005

Ayah yang Sibuk

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uang lagi, ya?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja."

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan minggu libur, kadang sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?"

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

"Kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000,- dong," katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp.5.000,- nggak?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa! minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.

"Tapi Papa..."

Kesabaran Rudi habis.

"Papa bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju, kamarnya.

Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Imron". Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih."

"Papa, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.

"Iya, iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja, mama sering bilang kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, ada Rp15.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,- . Makanya aku mau pinjam dari Papa," kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

source: milis BCN
• • •